Ciptakan Demokrasi di Ruang Digital yang Sehat

WEBMINAR: Pelaksanaan webminar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021, Sabtu (20/11) lalu.

SAMPIT – Suara demokrasi di ranah digital dalam sepuluh tahun terakhir semakin kencang seiring semakin mudahnya akses internet. Menciptakan demokrasi di ruang digital yang sehat perlu dilakukan untuk kemajuan bangsa serta melahirkan pemimpin yang sesuai keinginan rakyat.

Hal tersebut disampaikan Pemimpin Redaksi Radar Sampit, Gunawan dalam Webminar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021, Sabtu (20/11) lalu. Selain Gunawan, narasumber lainnya yang hadir, yakni Fahriyana (fasilitator Sekolah Ranah Anak Kabupaten Katingan), Steve Pattimana (Digital Creator Cameo Project), dan Cynthia Pariz (Creative Group Header).

Bacaan Lainnya

”Demokrasi digital dipandang sebagai bentuk pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam proses politik dan pemerintahan. Dalam kondisi ideal, internet mendorong aspirasi masyarakat tersampaikan melalui berbagai salurankomunikasi pemerintahan, sehingga tercipta kebijakan dan regulasi publik,” katanya.

Menurut Gunawan, demokrasi di ranah digital memiliki beberapa ciri, yakni menggunakan platform media sosial di jejaring internet untuk kegiatanpolitik atau pemerintahan, bebas mengemukakan pendapat, ide, dan gagasan apa pun, bebas mengkritik kebijakan pemerintahan atau pemimpin dalam koridor tertentu yang dibatasi undang-undang, serta penyampaian aspirasi di ruang digital dengan tujuan agar didengar pemerintah atau pemimpin yang berkuasa.

”Meski secara umum bebas mengemukakan pendapat, ide, gagasan, kritik, dan lainnya, penggunaan media sosial telah diatur dalam UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Artinya, ada batasan tertentu yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Misalnya, ujaran kebencian, hoaks, dan terkait SARA,” ujarnya.

Lebih lanjut Gunawan mengatakan, untuk menciptakan praktik demokrasi digital yang sehat, ada beberapa hal yang harus dilakukan. Di antaranya, literasi demokrasi digital perlu menyasargenerasi Z yang akan menjadi generasi emas tepat saat Indonesia genap berusia 100 tahun. Pada saat itu, tahun 2045, Indonesia diyakini mendapatkan bonus demografi yang mana 70 persen jumlah penduduk merupakan usia produktif.

Kemudian, lanjutnya, dalam konteks politik dan pemerintahan, pemerintah harus melakukan literasi demokrasi digital. Pemerintah melancarkan komunikasi publik yang mengandung konten positif yang membangun harapan dan optimisme publik.

”Ruang publik perlu diisi dengan konten positif dengan tujuan membangun harapan, mendorong optimisme, dan meningkatkan nasionalisme. Pemerintah mesti memikirkan cara terbaik dalam menanggulangi hoaks, ujaran kebencian, dan perilaku intoleran di media sosial,” tandasnya. (hgn)

Pos terkait