Di Balik Kembali Naiknya Harga Cabai di Sampit

Tembus Rp90 Ribu Per Kg, Sebagian Warga Batal Membeli

harga cabai
MELEJIT: Penjualan harga lombok rawit yang terus mengalami kenaikan di Pasar Tradisional Sampit, Sabtu (17/2/2024). (HENY/RADAR SAMPIT)

Harga cabai menjadi salah satu komoditas yang harganya paling sering tak stabil. Mencekiknya harga membuat daya beli masyarakat menurun.

===== | radarsampit.com

Bacaan Lainnya

”Harga lombok masih naik terus. Hari ini Rp 90 ribu per kilogram, beli 1 ons Rp 10 ribu,” kata Rosidah, Pedagang Lombok di Pasar Keramat, Selasa (20/2/2024).

Harga lombok tak jauh berbeda dengan di Pasar Al Kamal yang dijual kisaran Rp80 ribu per kilogram. ”Pasokan lombok lagi kosong. Dari Banjar belum bisa mengirim. Lombok Jawa juga belum dapat. Ini jual lombok lokal saja dari Kotabesi. Saya jual Rp75 ribu tiga hari lalu, sekarang naik Rp80-85 ribu per kilogram,” ujar Dewi Ayu, pedagang cabai.

Kenaikan harga sudah terjadi dua minggu ini, setelah sebelumnya sempat stabil di harga Rp45 ribu per kilogram di Pasar Subuh, Jalan MT Haryono.

”Tomat juga naik, yang hijau merah campur gini saya jual Rp25 ribu per kilogram. Biasanya saya jual Rp10-15 ribu saja per kilogramnya,” ujarnya.

Baca Juga :  Panik Rumah Digerebek, Ternyata sang Ibu Simpan Sabu

Begitu pula dengan harga bawang putih, yang selama ini cukup lama stabil kini naik di harga Rp37-38 ribu per kilogram. ”Harga bawang merah yang mulai turun, sesuai ukuran ada Rp35-37 ribu per kilogram,” ujarnya.

Ditanya sebab kenaikan harga cabai, Ayu mengaku tak mengetahui. ”Enggak tahu juga. Apa karena gagal panen. Tahunya dari distributor sudah naik, jadi harga ke pedagang ya menyesuaikan,” ujarnya.

Sementara itu, pedagang bahan kebutuhan pokok di Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) Sampit, Nana, mengatakan, kenaikan harga ini dimulai beberapa hari terakhir. Sebelumnya harga cabai rawit di kisaran Rp4 ribu – Rp5 ribu per ons atau Rp50 ribu per kilogram, kini tembus Rp10 ribu per ons atau Rp90 ribu per kilogram.

Berdasarkan informasi yang ia terima, kondisi ini disebabkan hujan yang turun terus menerus di daerah sentra produksi cabai sehingga membuat hasil panen berkurang. Kondisi ini otomatis membuat pasokan cabai rawit pun berkurang.

Bahkan, salah satu pemasok utama cabai rawit di Sampit, yakni Pulau Jawa, dalam dua hari terakhir tidak mengirimkan pasokan. Sehingga, para pedagang hanya mengandalkan pasokan dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan.



Pos terkait