Jalan rusak dan medan sulit menjadi makanan sehari-hari warga di Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat. Masih tertinggalnya pembangunan infrastruktur menjadi kendala dalam memberikan pelayanan kesehatan secara maksimal kepada masyarakat
KOKO SULISTYO, Pangkalan Bun
Tangisan bayi memecah keheningan lebatnya hutan Desa Penyombaan, Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar). Sumber suara tersebut berasal dari sebuah mobil kijang tua yang terjebak kubangan lumpur di ruas jalan poros menuju Desa Sambi.
Rustam, sang ayah bayi, tidak pernah menyangka ada cerita bahagia sekaligus memilukan dalam sejarah hidupnya. Anak yang lama diidamkan, harus dilahirkan di sebuah mobil dengan peralatan terbatas dan tak layak untuk proses kelahiran.
Kisah tersebut bermula ketika sang istri, Trisnawati, mulai merasakan kontraksi hebat janin yang dikandungannya. Tanda-tanda akan melahirkan sudah terlihat. Namun, mengingat satu-satunya layanan kesehatan berada di Desa Sambi, sang istri harus segera diboyong ke Puskesmas Sambi yang jaraknya sekitar 15 kilometer dari tempat tinggalnya di Desa Penyombaan.
Jarak itu sebenarnya terbilang cukup dekat. Namun, semuanya menjadi penuh perjuangan karena infrastruktur jalan sangat mengenaskan. Akses satu-satunya yang bakal dilewati menuju Puskesmas Sambi rusak parah. Kubangan lumpur di tengah jalan menjadi tantangan memuluskan proses kelahiran sang anak.
Menggunakan mobil milik sekretaris desa setempat, Trisnawati kemudian dibawa menuju Puskesmas Sambi. Tak disangka, di tengah perjalanan mobil yang membawa mereka, ambles dan terjebak lumpur. Kendaraan tak bisa bergerak.
Suasana semakin panik ketika kontraksi janin yang dikandung Trisnawati semakin hebat. Tidak ada waktu lagi. Calon buah hati sudah tak sabar ingin menatap dunia.
Kondisi demikian tak Rustam patah arang. Dia menghubungi tenaga kesehatan di Puskesmas Sambi untuk segera menyusul, karena mobil yang membawa istrinya tidak bisa bergerak lagi. Tanah merah bercampur lumpur berair, mencengkeram kuat empat roda mobil tersebut
Setali tiga uang, kendaraan dari Puskesmas Sambi yang membawa tenaga kesehatan untuk membantu persalinan mengalami nasib serupa. Terjebak lumpur dan tak bisa lagi melaju.
Rustam bersama warga yang ikut rombongan segera berlari puluhan meter untuk menjemput tenaga kesehatan dan membawa berbagai peralatan medis untuk membantu persalinan.
”Warga terpaksa berlari di tengah licinnya jalan untuk menjemput nakes dan peralatan medis, karena kondisi ibu yang akan melahirkan sudah mengkhawatirkan,” kata Sekdes Penyombaan Kasriful Anshori, Minggu (21/11).
Berkat pertolongan bidan dari Puskesmas Sambi maupun Desa Penyombaan, akhirnya lahirlah bayi mungil berjenis kelamin laki-laki seberat 4,2 kilogram. Dia dinamai Alvarendi.
Anshori menambahkan, ia turut mengantarkan langsung ibu hamil tersebut. Dalam benaknya, saat mobil ambles, tidak ada pilihan lain kecuali memberikan pengarahan kepada bidan desa dan puskesmas agar persalinannya dilaksanakan dalam mobil.
”Peristiwa itu tentu akan menjadi sejarah bagi ibu dan bayinya itu sendiri. Yang penting semuanya selamat, meskipun proses kelahiran di dalam mobil dan di atas lumpur,” katanya.
Sebenarnya, kata Anshori, mobil ambulans desa waktu itu telah disiapkan, namun terparkir di seberang sungai. Jalan menuju kecamatan maupun kabupaten di wilayah itu harus melalui seberang sungai.
”Mobil ambulans desa itu pun sebenarnya disiapkan untuk keperluan desa dan warga. Namun, kali ini, mengingat kondisi ibu hamil sudah sering kontraksi, maka bidan desa memilih Puskesmas Sambi yang jaraknya lebih dekat, meskipun dengan jalan yang lebih sulit dilalui,” katanya.








