PALANGKA RAYA, radarsampit.com – Universitas Muhammadiyah Palangka Raya (UMPR) memasuki era baru pendidikan kampus di Kalimantan Tengah. Kelulusan mahasiswa yang selama ini akrab dengan skripsi, tak berlaku lagi. Perguruan tinggi tersebut akan menerapkan kebijakan baru, mahasiswa bisa lulus tanpa menyusun skripsi ataupun tesis.
”Kewajiban bagi mahasiswa selama ini harus menuliskan hasil penelitian dalam bentuk skripsi untuk menjadi sarjana dan tesis untuk dapat menjadi master sudah tidak berlaku terhitung 1 Juni 2023. Digantikan dengan tulisan dalam format artikel standar publikasi jurnal dengan isi tulisan maksimal 12 halaman,” kata Wakil Rektor I UMPR Chandra Anugrah Putra, Jumat (19/5).
Chandra menuturkan, kebijakan baru dengan penyajian hasil penelitian dalam format artikel publikasi jurnal, menyesuaikan dengan tuntutan agar karya ilmiah mahasiswa bisa diakses publik secara luas bahkan hingga skala internasional.
Penghapusan skripsi dan tesis di UMPR, lanjutnya, untuk membawa mahasiswa pada petualangan keilmuan secara global yang bisa dijalani secara praktis dan substansial.
”Kebijakan ini tidak menghilangkan hal mendasar dari metode dan tahapan penelitian mahasiswa, seperti keharusan tetap ke lapangan untuk menangkap fenomena yang menjadi masalah, observasi, koleksi data, wawancara, dan seterusnya. Namun, hasil penelitian menjadi disajikan dalam format artikel standar publikasi jurnal hingga bereputasi internasional,” ucap Chandra.
Dia melanjutkan, mahasiswa juga tetap melakukan observasi guna menemukan fenomena baik fenomena umum maupun fenomena permasalahan dalam penelitian,. Proses pembimbingan dari dosen tetap ada, karena proses penelitian tetap berjalan.
Untuk itu, mahasiswa tetap menjalani penelitian, mendapatkan dosen pembimbing dan proses penyajian terkait paparan tugas akhir (presentasi tugas akhir) tetap akan dilaksanakan. Dengan demikian, alur atau mekanisme tugas akhir menjadi bisa dipertanggungjawabkan perguruan tinggi dengan bukti lapangan dalam bentuk foto atau video.
Selain itu, tambahnya, juga dapat berupa bukti penelitian dalam bentuk kualitatif atau wawancara, statistik, uji analisis, uji hipotesis penelitian, dan pendukung lainnya pun akan disediakan secara khusus melalui media penyimpanan yang telah disiapkan.
”Hal ini untuk menjaga kualitas dan kredibilitas penelitian yang dilakukan. Intinya, yang menjadi perbedaan adalah kemasan akhir. Dalam hal ini, skripsi sudah dibuat dalam bentuk artikel ilmiah yang siap dipublikasi pada sebuah jurnal,” kata calon Profesor kedua di UMPR itu.
Hal ini, lanjut dia, merupakan salah satu program kerja dari majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat (Diktilitbang PP) Muhammadiyah. Saat ini juga telah banyak Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang melaksanakan program tersebut.
”Namun, bagi UMPR, penelitian mahasiswa juga perlu diarahkan untuk publikasi jurnal ilmiah,” kata Chandra.
Pihaknya ingin semua bentuk hasil penelitian dikemas dalam bentuk publikasi jurnal. Baik dosen maupun mahasiswa melakukan publikasi terhadap jurnal ilmiah hasil karyanya.
”Ini juga merupakan salah satu dukungan terhadap program capaian majelis Diktilitbang untuk 100.000 publikasi untuk seluruh PTMA se-Indonesia,” katanya.
Dia berharap program tersebut berjalan dengan baik dan dapat meningkatkan publikasi dari penelitian mahasiswa itu sendiri. Selama ini banyak hasil penelitian mahasiswa terabaikan dan tersimpan begitu saja dalam bentuk fisik.
Melalui program ini pula, mahasiswa memperoleh pengalaman dalam publikasi jurnal, sehingga sangat bermanfaat bagi jika kelak mereka melanjutkan studi lanjut ke jenjang yang lebih tinggi atau berkiprah pada berprofesi sebagai seorang dosen. Saat ini pihaknya masih fokus pada penyampaian di internal UMPR. Selanjutnya, pihak fakultas dan program studi menyosialisasikan kepada mahasiswa.








