Ini Penyebab Melejitnya Harga Elpiji Subsidi, Ada Dilema Sanksi Pedagang Eceran

gas elpiji subsidi
HARGA MENCEKIK: Proses bongkar muat gas elpiji 3 kilogram di Sampit, beberapa waktu lalu. (DOK.RADAR SAMPIT)

SAMPIT, radarsampit.com – Mahalnya harga elpiji subsidi akibat terlalu panjangnya rantai distribusi sampai ke tangan konsumen. Penindakan juga agak sulit dilakukan, karena pedagang eceran dinilai ikut membantu penyaluran terhadap warga yang tak terjangkau area di sekitar pangkalan, terutama di wilayah pedalaman.

”Elpiji di lapangan memang kami temukan sudah tangan kedua hingga tangan kelima. Inilah yang menyebabkan harga menjadi lebih mahal,” kata Sales Branch Manager Wilayah II Kalselteng PT Pertamina Patra Niaga Marketing Operation Region (MOR) VI Kalimantan Hutama Yoga Wisesa, Selasa (27/9).

Bacaan Lainnya

Dia melanjutkan, pertamina berupaya terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan berbagai pihak untuk mengatasi persoalan tingginya harga dan langkanya gas elpiji 3 kg. Perlu dilakukan pengawasan bersama dari Pertamina, pemerintah daerah, dan masyarakat yang aktif melaporkan dan menyuarakan fakta dan bukti di lapangan.

Baca Juga :  Libatkan Jaksa Agung, Bupati Kotim Tarik Jaksa Jadi Kabag Hukum Pemkab Kotim

Catatan Radar Sampit, harga elpiji subsidi yang jauh melebihi harga eceran tertinggi kerap disuarakan warga di media sosial. Koran ini bahkan beberapa kali memberitakan keluhan warga, namun hingga kini minim penindakan.

”Pengawasan yang dilakukan Pertamina terbatas sampai tingkat pangkalan, karena pangkalan ini resmi yang berkontrak dengan agen elpiji. Harganya harus sesuai HET. Menyikapi pedagang eceran, memang agak dilema bagi kami. Di satu sisi, mereka membantu penyaluran distribusi sampai pelosok desa yang aksesnya belum bisa dilewati truk tangki dan banyak saya temukan di daerah Seruyan. Tetapi, di satu sisi permainan harga di pasaran menjadi sulit dikendalikan,” ujar Yoga.

Penelusuran Radar Sampit sebelumnya, tingginya harga tak hanya di pedalaman. Untuk kawasan kota yang tak jauh dari pangkalan pun harganya melejit, yakni Rp 35 ribu, Rp 38 ribu, Rp 40 ribu, sampai Rp 48 ribu per tabung. Padahal, HET yang ditetapkan Pemkab Kotim sebesar Rp 22 ribu di tingkat pangkalan.

Pos terkait