Selain Tahun Baru Imlek, masyarakat Tionghoa juga memiliki tradisi lain; Ceng Beng. Tradisi itu merupakan ziarah dan persembahyangan yang dilakukan warga keturunan. Tradisi itu dianggap sangat penting untuk menghormati leluhur.
YUNI PRATIWI ISKANDAR, Sampit
Hari Ceng Beng atau Qing Ming, suatu hari ziarah tahunan yang jatuh pada 5 April. Namun, sejak 10 hari sebelum tanggal itu, sesuai kepercayaan warga Tionghoa, sudah boleh ziarah kubur, seperti yang terlihat di kompleks pemakaman Tionghoa di Jalan Jenderal Sudirman Km 6, Kelurahan Pasir Putih Kecamatan Mentawa Baru Ketapang Kotim, Minggu (3/4).
Aroma khas dupa yang tercium saat memasuki area pemakaman sekitar pukul 04.30 WIB menandakan sejumlah warga Tionghoa sudah berada di area pemakaman sebelum jam itu. Kebanyakan warga Tionghoa memilih berziarah sebelum matahari terbit. Selain agar lebih khidmat, juga menghindari penumpukan kendaraan di jalan masuk ke area makam.
Berbagai persembahan berupa nasi sayur, sam seng, kue, buah, masakan berkuah dan kering hingga karangan bunga dipersembahkan pada hari ziarah tahunan bagi etnis Tionghoa sebagai tanda bakti anak kepada orang tua atau leluhur.
Ceng Beng cenderung lebih sepi, tidak semeriah perayaan Tahun Baru Imlek, karena isinya hanya ziarah dan melakukan persembahyangan. Warga keturunan Tionghoa biasanya akan datang ke makam orang tua atau leluhur untuk membersihkan area makam dan sekalian bersembahyang di makam tersebut.
Sonya, sengaja datang dari Banjarmasin ke Sampit untuk mengikuti Ceng Beng, yang sudah menjadi tradisi di keluarga besarnya. Sudah lima tahun lebih dia tidak pulang ke Sampit untuk melakukan Ceng Beng, sehingga tradisi ini sekaligus dijadikan momen untuk berkumpul bersama keluarga.
”Saya baru datang Sabtu (2/4) malam, sengaja ke Sampit biar bisa ikut Ceng Beng,” katanya.
Bagi etnis Tionghoa yang tidak dapat datang langsung ke makam leluhur, dapat sembahyang di vihara. Sebagai ganti pelimpahan jasa pahala atas nama orang tua atau leluhur yang sudah meninggal, bisa dengan sumbangan bentuk uang ataupun buah-buahan.
Thong Hulang, warga Tionghoa lainnya juga mengaku setiap tahun melakukan Ceng Beng. Apalagi tradisi tersebut sudah berjalan ribuan tahun dan menjadi tradisi tahunan di keluarganya yang tidak akan pernah ditinggalkan.
”Kami harus perkenalan tradisi ini ke anak cucu sebagai generasi penerus yang akan melanjutkan. Tanpa leluhur, kita tidak akan ada di bumi ini. Tradisi ziarah ke makam ini untuk mengingat jasa-jasa orang tua atau para leluhur,” ungkapnya.
Saat Ceng Beng, jika mengikuti tradisi dulu, harus Sam Seng atau sembahyang tiga unsur, yaitu ayam mewakili unsur udara, babi mewakili darat, dan ikan mewakili unsur air. Sedangkan untuk vegetarian saat ini sudah banyak yang menggunakan bahan olahan untuk ketiga unsur tersebut, sehingga hanya perlu menyiapkan buah-buahan, nasi, dan sayur untuk persembahan.
”Setelah semua persembahan siap, dilakukan sembahyang di makam leluhur. Dilanjutkan dengan tradisi peletakan kertas sembahyang di atas makam, sebagai tanda bahwa kubur sudah dibersihkan atau telah dikunjungi keluarga,” jelasnya.
Peletakan kertas sembahyang kertas perak atau kertas kuning di atas makam sebagai penanda atas kubur, yang kemudian dijadikan tradisi setiap tahunnya dalam memperingati Ceng Beng. Dilanjutkan dengan ritual sembahyang dewa bumi atau du di gong (thu ti kong, Red) dengan membakar kertas berwarna keemasan atau kim cua untuk sembahyang dewa-dewi dan kertas warna perak gin cua untuk sembahyang leluhur.
Menurut Hulang, begitu dia biasa disapa, terpenting dari hari Ceng Beng adalah untuk mengingat orang terkasih yang telah meninggal dunia. Selain itu, hari Ceng Beng juga merupakan waktu yang tepat untuk berkumpul dan mempererat hubungan bersama sanak keluarga yang datang dari jauh.







