Jangan Sampai Generasi Sampit Berpikiran Sempit

Kunjungan Rocky Gerung dan Dikki Akhmar ke Radar Sampit (1)

rocky gerung
Kunjungan Rocky Gerung bersama Dikki Akhmar ke sejumlah daerah di Kalimantan Tengah membuat publik bertanya-tanya. Semua ia jawab tuntas saat mampir ke kantor redaksi Radar Sampit, Jumat pagi lalu

Menurutnya, setiap daerah memiliki sesuatu yang unik dan Kalteng memiliki keunikan itu. Namun, harus dihubungkan dengan kreativitas dan inovasi.

“Saya berupaya melihat, bagaimana mungkin tingkat kesejahteraan dan pendidikan rendah disini, udara bersih di Kalteng dari atas langit peta kalteng terlihat yang paling hijau, artinya oksigen masih bagus. Semua sumber daya alam yang disediakan yang maha kuasa ada disini. Tinggal sumber akal sehatnya yang mungkin harus dihubungkan dengan ketidaksehatan akal yang ada di Jakarta,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

“Nah itu mesti harus ada protes politik, tidak hanya mungkin bunyi ditingkat nasional, kalau tidak ada wakil yang betul-betul mampu menerangkan anatomi Kalimantan. Tidak kalah penting masyarakat harus mampu berpikir alternatif dan itu diperlukan dengan dukungan wakil rakyat,” tambahnya.

Rocky menyahut apabila ada kesepakatan kultural untuk melakukan pemetaan ulang (re-maping) kondisi bisnis, potensi, logistic maka akan menghasilkan kota yang efisien.

Baca Juga :  Xenia Tabrak PJU, Truk Hajar Tiang Listrik  

“Semua kota yang dirancang dengan akal pikiran itu akhirnya akan menciptakan suasana seperti ‘home sweet home’. Saya gak lihat bangunan, tapi lihat suasana dan potensi yang ada di sini (Kalteng),” sahut Rocky menyambung ucapan Dikki.

Menjadi seorang pemimpin kata Rocky, harus mampu melalukan re-maping berdasarkan pengetahuan dengan tetap menjaga pertahanan mental dan masyarakat adat yang harus tetap dihormati.

“Efisiensi juga mesti diandalkan supaya kemakmuran cepat tiba. Itu butuh konsep di kepala. Yang saya maksud representasi mengubah re-maping itu diperlukan wakil dari Kalteng untuk diucapkan ke pusat,” ujarnya.

Di Kalteng ini, Rocky mendapatkan pengetahuan masih ada pragmatism dan oportunisme di masyarakat Kalimantan. “Kenapa itu bisa terjadi, karena soal pendidikan,” ujar Rocky. (***/yit)



Pos terkait