Jangan Sampai Generasi Sampit Berpikiran Sempit

Kunjungan Rocky Gerung dan Dikki Akhmar ke Radar Sampit (1)

rocky gerung
Kunjungan Rocky Gerung bersama Dikki Akhmar ke sejumlah daerah di Kalimantan Tengah membuat publik bertanya-tanya. Semua ia jawab tuntas saat mampir ke kantor redaksi Radar Sampit, Jumat pagi lalu

Belum lagi persoalan perkebunan kelapa sawit yang hampir semua kabupaten di Kalteng menghadapi masalah. Dari yang tadinya Areal  Penggunaan Lain (APL) berubah menjadi hak pemanfaatan hutan.

”Nah ini kan kasihan, masyarakat sampai ragu, apakah mereka bisa memiliki kebun atau tidak, sementara kebun yang sudah ditanam ada yang berusia 5 tahun bahkan hingga 20 tahun,” ujar Ketua Assosiasi Pengusaha Cangkang Sawit Indonesia (APCASI).

Bacaan Lainnya

Dikki mengaku memahami persoalan sawit dan ingin berupaya membantu masyarakat agar segera mendapatkan solusi dari masalah yang dihadapi.

“Permasalahan sawit itu terjadi disini (Kalteng). Saya di APCASI, jadi saya mengerti bagaimana persoalan sawit, saya berkomunikasi dengan kementerian setiap beberapa bulan sekali, tanpa saya menjadi dewan saya sudah lakukan itu. Di Sukamara saya sudah berhasil melakukan suplai pupuk, yang tadinya sudah disetujui tapi dari Mei lalu tidak diturunkan, saya telpon direkturnya sekarang meraka sudah mendapatkan bantuan pupuk,” ujarnya.

Baca Juga :  ASTAGA!!! Ribuan Kosmetik Ilegal dan Kedaluwarsa Paling Banyak di Kotim dan Palangka Raya

“Artinya, bahwa persoalan masyarakat itu terjadi, karena kurangnya perhatian untuk memberikan bantuan atas kebutuhan mereka dengan link-link yang seharusnya bisa membantu,” tambahnya.

Jarak tempuh yang jauh dengan lahan yang begitu luas, sampai seluas Pulau Jawa, dengan kondisi masyarakat yang sporadic ditambah APBD Rp 1,7 triliun mana mungkin pemerintah daerah mampu memberikan distribusi yang merata kepada masyarakat.

“Jadi secara geopolitik saja ini harus diubah. Saya tidak menyalahkan pemerintah daerah, kalau mereka tidak melihat mampu melakukan itu, karena memang ini harus ada perubahan, sayangnya pemda mungkin melihat soal perubahan geopolitik dengan memanfaatkan kondisi yang ada, sehingga terhadap atensinya terhadap masyarakat menjadi kurang,” kata Dikki.

Maka dari itu, lanjut Dikki, perbaikan akal pikiran masyarakat harus dirubah dengan cara melalukan kegiatan usaha secara mandiri.

“Sense of urgency itu mesti ditempatkan pada pilihan paradigma. Kalimantan tengah bisa diasuh dengan paradigma dengan geopolitik. Jadi kita tahu Kalteng memiliki dataran yang tidak halangan untuk membangun infrastruktur bahkan mungkin dengan arsitek yang sederhana bisa menciptkan satu kota yang indah,” ujarnya.



Pos terkait