Banjir yang melanda Kecamatan Bukit Santuai, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), juga merendam fasilitas kesehatan setempat. Meski ditimpa bencana, petugas kesehatan setempat berusaha agar pelayanan terhadap warga tak terhenti.
HENY, Sampit
Terendamnya Puskesmas Bukit Santuai jadi perhatian serius Wakil Bupati Kotim Irawati. Orang nomor dua di Bumi Habaring Hurung ini langsung meninjau lokasi dalam road show-nya ke sejumlah titik banjir di Kotim untuk menyerahkan bantuan secara langsung.
Ketinggian air di puskesmas tersebut sempat mencapai sebahu orang dewasa. Dalam kunjungannya, Irawati mengecek fasilitas dan alat kesehatan di puskesmas tersebut.
”Layanan kesehatan untuk sementara dipindahkan di Aula Kecamatan Bukit Santuai,” kata Irawati.
Melihat letak puskesmas yang berada di dataran rendah dan berpotensi jadi langganan banjir, Irawati akan mengusulkan relokasi bangunan tersebut. ”Dilihat nanti. Kalau banjir membuat layanan sampai terganggu, pemerintah akan rencanakan relokasi bangunan puskesmas,” ujarnya.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Puskesmas Bukit Santuai Roly Pahrizanuari mengatakan, layanan fasilitas kesehatan di Puskesmas Bukit Santuai sempat terganggu. Sejumlah alat kesehatan terendam banjir setelah hujan yang terjadi Minggu (22/8) lalu.
”Mulai tengah malam Senin (23/8), ketinggian banjir sampai sedada orang dewasa. Besoknya sampai Rabu (25/8), banjir terus meninggi sampai sebahu. Kamis mulai turun dan hari ini (kemarin, Red) mencapai selutut. Air benar-benar surut setelah magrib. Lantai sudah nampak,” kata Roly, Jumat (27/8).
Selama banjir, pihaknya mendirikan posko kesehatan darurat di Aula Kecamatan Bukit Santuai yang letaknya 200 meter dari puskesmas. ”Letak Puskesmas Bukit Santuai memang lebih rendah. Setiap hujan deras yang berlangsung lama, sudah biasa jadi langganan banjir. Jadi, kami langsung cepat melakukan evakuasi dan mendirikan posko darurat,” katanya.
Meski sudah melakukan evakuasi, ada beberapa alat kesehatan yang tidak sempat diselamatkan, seperti kasur, kursi, alat oksimetri, satu set alat bedah minor, dan beberapa obat-obatan. Bahkan, 71 tenaga kesehatan puskesmas berusaha membagi waktu melayani pasien sambil mengamankan perabotan rumah masing-masing yang ikut terendam banjir.
”Sebenarnya kami sudah melakukan evakuasi level satu. Barang-barang diamankan di atas meja. Ternyata air semakin meninggi sampai sebahu orang dewasa,” katanya.
Lebih lanjut dia mengatakan, bencana banjir serupa pernah terjadi pada 2009 dan 2010 silam. ”Tahun 2009 lebih tinggi dari tahun ini banjirnya. Setelah tahun 2010, banjir tidak terlalu dalam. Tahun ini yang hampir menyaingi banjir tahun 2009,” ujarnya.
Selama banjir melanda, tenaga kesehatan memberikan pelayanan jemput bola ke rumah warga yang sakit. ”Selama banjir pasien tidak terlalu banyak. Dari Senin ada 4 pasien rawat jalan ditangani di posko. Satu pasien kami berikan pelayanan kesehatan langsung ke rumahnya dipasang infus, dan ada satu balita yang kejang-kejang juga ditangani langsung ke rumah pasien,” ungkapnya.
Sementara itu, Camat Bukit Santuai melalui Kepala Desa Tumbang Penyahuan Sempung mengatakan, ada 330 KK yang terdampak banjir, 279 rumah terendam, dan 51 rumah tidak terendam. Bantuan dari Pemkab Kotim dan sejumlah sangat membantu warga yang terdampak.
”Wabup Kotim bersama rombongan mengantarkan ratusan paket bahan pokok dan beras kemasan 5 kg. Saya tidak sempat hitung jumlahnya karena ada penambahan. Sebagian sudah disalurkan ke warga yang terdampak banjir. Sisanya dilanjutkan besok penyalurannya,” ujarnya.








