Kisah di Balik Meninggalnya Balita di Desa Bawan, Kecamatan Mentaya Hulu

”Dia Semangat Hidup Saya, Makanya Saya Pergi Mencari Kerja”

wabup kotim datangi ibu balita korban tenggelam
PILU: Wakil Bupati Kotim Irawati saat menemui Cahya Prania, ibu balita yang tenggelam di Desa Bawan.

Kehilangan buah hati untuk selamanya menyayat hati Cahya Prania. Anaknya yang masih berusia 15 bulan, meninggal dunia secara tragis akibat tenggelam di selokan sekitar rumah di Desa Bawan, Kecamatan Mentaya Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

HENY-radarsampit.com, Sampit

Bacaan Lainnya

Wajah Aqmar Ramadan masih terbayang dalam ingatan Cahya Prania (19). Anak semata wayang yang menjadi penyemangat hidupnya pergi meninggalkannya untuk selamanya. Aqmar ditemukan tak bernyawa dalam selokan yang tak jauh dari rumahnya di Desa Bawan, Kecamatan Mentaya Hulu, Senin (13/9) pagi.

Mirisnya, kabar duka itu diketahui Cahya saat dirinya sedang mencari pekerjaan ke Kota Sampit. Tubuh balita yang masih berusia 15 bulan itu ditemukan terbujur kaku sekitar pukul 09.30 WIB, setelah kakek dan neneknya, dibantu warga melakukan pencarian. Sekitar dua jam sebelum kejadian, Jumiati (50) ibu Cahya bersama menantu perempuannya (istri kakak Cahya) sedang menjemur pakaian di samping rumah.

Merasa tak ada kawan di rumah, Aqmar keluar mengikuti neneknya. Dia berjalan ke tanah. Jumiati beberapa kali memantau pergerakan cucunya yang saat itu berada sekitar dua meter dari lokasinya berdiri. Namun, saat memantau ke sekian kalinya, Jumiati mulai panik tak melihat lagi cucunya.

Jumiati lalu berteriak memanggil Bidu, suaminya. Bidu saat itu sedang berkebun di belakang rumah yang jaraknya sekitar 50 meter. Dengan raut wajah panik, Jumiati menceritakan cucu yang biasa menghiburnya di rumah tiba-tiba hilang.

Setelah pencarian selama satu jam lebih, Aqmar ditemukan di selokan  pada kedalaman sekitar satu meter dengan lebar 50 cm. Kondisinya sudah tak bernyawa. Aqmar meninggal dalam dekapan sang nenek, diiringi tangisan yang tak terbendung. Begitu kabar duka itu sampai ke Cahya, dengan perasaan berkecamuk, dia bergegas balik ke kampung halamannya, menemui jasad sang anak untuk terakhir kalinya.

Kades Bawan Widianto yang merupakan kakek korban mengatakan, cucunya memang suka bermain air. ”Ayah Cahya itu saudara saya. Jadi, korban itu juga cucu saya sendiri. Anaknya memang senang bermain air. Kami keluarga juga tidak menyangka kejadian ini menimpa cucu saya,” ujar Widianto.

Desa Bawan saat itu dalam kondisi banjir. Namun, kediaman Jumiati tidak sampai terendam karena berada di dataran yang cukup tinggi dan jauh dari rumah tetangga. Meski demikian, di beberapa titik yang tak jauh dari rumah, ada genangan banjir di ketinggian sekitar 5-10 cm.

Kabar meninggalnya balita asal Desa Bawan sampai juga ke Wakil Bupati Kotim Irawati. Sehari pascakejadian tersebut, Irawati bersama Kepala Pelaksana BPBD Kotim Rihel, Kepala Dinas Sosial Kotim Wiyono, Direktur Radar Sampit Siti Fauziah, datang langsung mengunjungi rumah duka dan menemui Cahya.

Dalam pertemuan itu, Irawati mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya Aqmar. Cahya menangis dalam dekapan Irawati dan meluapkan semua kesedihan yang menyiksa hati dan perasaannya.

Cahya mengatakan, saat kejadian dirinya tidak berada di Desa Bawan. Anaknya dititipkan ke orang tuanya. Cahya berangkat ke Kota Sampit dengan niatan mencari kerja.

”Anak saya ini segalanya bagi saya. Dia mengajarkan saya artinya tanggung jawab dan semangat menjalani kehidupan. Dia semangat hidup saya, makanya saya pergi ke Sampit ingin mencari kerja demi membahagiakan dia,” kata Cahya dengan air mata bercucuran.

Cahya berjuang seorang diri tanpa suami. Saat ini suaminya sedang terlibat masalah, sehingga ia melahirkan anaknya tanpa ada suami yang mendampinginya. ”Dari lahir sampai meninggal, anak saya belum pernah melihat bapaknya. Suami saya saat ini sedang ada masalah yang membuat kami tidak bersama,” katanya.

Pos terkait