SAMPIT, RadarSampit.com– Ikan lele telah menjadi salah satu lauk yang banyak digemari masyarakat Indonesia. Bahkan yang dulu masyarakat di Kalimantan, khususnya di Kalimantan Tengah yang nama nya ikan lele sangat tidak disukai oleh masyarakat lokal Kalimantan, seiring berjalannya waktu, dan banyaknya masyarakat lokal yang berbaur dengan pendatang, akhirnya ikan Lele berangsur mulai disukai oleh masyarakat lokal.
Menurut Penyuluh Perikanan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Setia Rahman S.Pi, selain itu juga peran instansi terkait baik melalui Dinas Perikanan maupun penyulun perikanan juga terus mengenalkan dan mensosialisasikan kepada masyarakat. Bahwa selain harganya cukup ekonomis, membudidayakannya cukup mudah.
“Ikan lele juga tinggi akan zat gizi yang bisa diolah menjadi berbagai jenis makanan. Seperti nugget, abon dan juga sebagai bahan membuat pentol bakso. Dikarenakan cukup tingginya minat masyarakat akan ikan lele ini, bisnis pembudidayaannya pun cukup menarik untuk dilakukan,” ujarnya kepada Radar Sampit.
Menurut Setia Rahman, setelah dilakukan survey di berbagai tempat dari para penampung, pembenih dan penjual bibit ikan lele di Kabupaten Kotawaringin Timur, terdapat data yang cukup fantastis dari minat masyarakat untuk membeli bibit ikan lele.
”Tercatat, kurang lebih sekitar 40-50 ribu ekor bibit ikan lele yang keluar dalam setiap bulan nya. Artinya minat dan potensi masyarakat terhadap budidaya ikan lele cukup besar,” ungkapnya.
Setia Rahman melanjutkan, setelah melihat, mengkaji dan mengamati potensi perairan di aliran Sungai Mentaya di Kotim, ternyata potensi perairan di daerah aliran sungai Mentaya cukup cocok sebagai sumber air untuk media budidaya ikan lele.
”Dari berbagai titik lokasi pengamatan kami, pH air sungai Mentaya pada saat air sedang surut cukup rendah, yaitu berkisar antara 5 – 5,7. Ini menandakan air mengandung asam yang cukup tinggi. Namun jika pada saat air pasang, aliran sungai mentaya pH nya bisa mencapai 6 – 7,4. Artinya kondisi air Mentaya pada saat pasang sangat bagus digunakan untuk media kolam untuk budidaya ikan air tawar, khususya ikan Lele,” paparnya.
Lebih lanjut dijelaskannya, dalam ilmu budidaya ikan, pH normal berkisar antara angka 6 sampai dengan 8. Sementara pH di bawah 6 artinya kandungan air bersifat asam, sedangkan untuk pH air di atas 8 berarti kandungan air bersifat basa.
Sementara itu untuk Lele memiliki tingkat toleransi pH di kisaran pH 5,5-7,5, yang artinya lele lebih toleran di kondisi air basa ketimbang asam, kondisi air ideal pada lele di level 5,5- 7,5.
Selain itu juga tambah Setia Rahman, sumber air sungai Mentaya juga bisa dimanfaatkan untuk budidaya ikan air tawar lainnya seperti, ikan nila, patin, bawal, gurami dan berbagai jenis air tawar lainnya.
”Dengan catatan apabila akan digunakan untuk kolam galian atau kolam terpal, sumber air yang digunakan harus berasal dari air pasang dan terhindar dari pencemaran lingkungan,” tandasnya. (gus)







