Miris! Impian Anak Miskin Sampit ke Sekolah Rakyat Sirna Hanya Karena Masalah Ini…

mukri
BERJUANG SENDIRI: Anang Mukri di depan barakan tempat tinggalnya saat mendapat bingkisan dari dermawan.

”Saya dari awal mengikuti perkembangan Sekolah Rakyat yang dibuat Presiden Prabowo. Infonya saya dapat dari koran yang saya jual. Karena ada tawaran dari wali kelas anak saya, makanya saya iyakan untuk didaftarkan di Sekolah Rakyat. Bagi saya pendidikan anak sangat penting, apalagi ini gratis dan semuanya dibiayai pemerintah,” jelas Anang.

Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Hingga bulan berganti bulan. Tak ada kabar kelanjutan soal Sekolah Rakyat. Kesibukan mencari nafkah nyaris tidak ada waktu bagi Anang untuk mencari informasi lanjutan.

Bacaan Lainnya

Inisiatif muncul dari anak tertuanya. Sang kakak mencoba ulang mendaftarkan lewat online menggunakan handphone butut milik kakaknya.

Saat mendekati waktu pembukaan Sekolah Rakyat yang semakin mepet, Anang belum juga mendapat jawaban.

Apakah diterima atau tidak. Hingga waktu pelaksanaan itu tiba, Anang mencoba memberanikan diri menuju ke Islamic Center, tempat Sekolah Rakyat.

Pagi-pagi buta, Anang membonceng anaknya menggunakan sepeda bututnya menuju tempat sekolah yang diimpikan. Jarak tidak menjadi penghalang, lelah diabaikan. Yang pentingnya anaknya bisa diterima.

Namun, harapan itu sirna. Impian bisa menyekolahnya si anak buyar saat itu juga. Anaknya tidak ada dalam daftar peserta yang diterima di tingkat SMA.

”Dari keterangan petugas di sana, nama anak saya tidak masuk. Calon siswa yang diterima harus berasal dari keluarga miskin dan masuk dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional,” kata Anang.

Anang dan anaknya hanya bisa terduduk. Sepanjang hidupnya yang berada dalam lingkaran garis kemiskinan, Anang tidak pernah mendapatkan pendataan dari petugas untuk masuk data base sebagai warga penerima bantuan atau apa pun itu dari pemerintah.

Baca Juga :  Raiz dan Saudah, Potret Keluarga Miskin di Kota Cantik Palangka Raya

”Jika, syaratnya wajib masuk di database anak saya tidak akan pernah bisa masuk Sekolah Rakyat. Dari dulu sampai sekarang saya sekeluarga juga tidak pernah dapat bantuan, baik itu BLT, sembako murah atau apa pun itu. Mungkin ini sudah takdir saya jadi warga miskin,” lirih Anang.

Anang hanya bisa berujar, program Sekolah Rakyat ke depannya hendaknya dijalankan dengan maksimal.

Pos terkait