SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Impitan ekonomi memaksa Anang Mukri harus memutar otak setiap hari. Hampir tiga dekade nyaris tidak ada kata menyerah dalam kamus hidupnya.
Hari ini semuanya berubah. Anang Mukri mengucapkan kata menyerah. ”Saya sudah tidak sanggup lagi”.
Impiannya untuk menyekolahkan anak bungsunya ke jenjang SMA buyar. Bahkan, harapan terakhir untuk bisa masuk Sekolah Rakyat yang diprioritaskan bagi warga miskin tertutup rapat.
Di usianya yang menginjak 55 tahun, Anang Mukri masih terlihat gagah. Jalannya tegap dengan tatapan mata tajam. Sepeda tua dengan kondisi yang sudah reot dan mengeluarkan bunyi berdecit terus dikayuhnya.
Warga Baamang Tengah ini tidak mempunyai pekerjaan tetap. Apa pun dilakukan selagi fisiknya mampu dan yang dikerjakan halal. Menjadi pengantar koran dan mencari plastik bekas menjadi penopang hidup Anang Sukri dan keluarga sejak 15 tahun terakhir.
Tahun ini merupakan tahun yang sangat berat bagi Anang Mukri. Putra sulungnya yang baru lulus SMP tidak bisa melanjutkan ke jenjang SMA.
Keterbatasan ekonomi keluarga mengubur impian untuk bisa masuk sekolah negeri. Meski ada kuota bagi warga tidak mampu, Anang tidak berani memasukkan ke sekolah negeri.
”Istilahnya saja gratis. Tapi saat masuk sekolah tetap saja ada biaya yang harus dikeluarkan. Uang dari mana saya, untuk makan sehari-hari saja kadang pas-pasan,” cerita Anang Mukri.
Dengan kondisi ekonomi yang boleh dibilang masuk garis merah, Anang tetap berjuang menafkahi keluarga. Uang yang didapat hari ini akan habis hari itu juga. Semuanya untuk membeli kebutuhan makan.
”Saya ini hidup miskin, tapi tidak boleh mengeluh. Selama badan masih sehat kita harus berjuang mencari nafkah. Yang penting keluarga di rumah bisa makan dan bayar barakan untuk tempat berteduh,” kata Anang.
Lampu hijau sempat didapat Anang. Wali kelas anaknya di SMP sebelum kelulusan, sempat menghubungi jika anak bungsunya akan didaftarkan di Sekolah Rakyat yang dibuka Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur.
Secercah harapan muncul di kepala Anang dan anaknya. Meski konskuensinya jika diterima, si anak harus masuk asrama dan terpisah dengan orang tua.








