Napi Kabur Maling Motor di Masjid, Gagal Lari ke Luar Negeri

napi kabur
DIAMANKAN: Dua narapidana Lapas Kelas IIA Palangka Raya, Panca Reno dan Jihat Aji Nurmako, diapit aparat setelah berhasil diamankan. (DODI/RADAR SAMPIT)

PALANGKA RAYA, radarsampit.com – Pencurian sepeda motor yang dilakukan tiga narapidana Lapas Kelas IIA Palangka Raya yang kabur pekan lalu ternyata dilakukan di masjid. Aksi itu dilakukan dalam pelarian di Palangka Raya dan Kabupaten Katingan.

Tiga dari empat napi kabur tersebut berhasil ditangkap Kembali. Mereka adalah Panca Reno Rama Kencana Adiwardana Marry Yuandi, Jihat Aji Nurmako, dan Prihartono. Prihartono tewas ditembak karena berusaha menyerang aparat. Satu napi, Abdul Rahman, masih buruan petugas.

Bacaan Lainnya

Pencurian yang dilakukan tiga sekawan tersebut pertama dilakukan di Masjid Syuhada, Jalan Mangkuraya, Kelurahan Kereng Bengkirai, Kota Palangka Raya pada Senin (6/3), sekitar pukul 04.00 WIB. Kendaraan dicuri jenis Suzuki Satria F dengan nomor polisi LH 3165 TG dan Honda Vario putih silver nopol KH 2309 NS.

Pencurian kedua dilakukan pada di hari yang sama sekitar pukul 19.00 WIB di Masjid Baitul Yaqin, Jalan Kelud, Kelurahan Kasongan Lama, Kecamatan Katingan Hilir, Kabupaten Katingan. Motor ketiga jenis Honda CBR 150 cc dengan nopol DA 2332 WA.

Baca Juga :  Pasangan Mesum Terekam CCTV Stadion 29 November Sampit

Dari barang bukti yang diamankan saat penggeledahan, personel gabungan Polda Kalteng mengamankan satu senjata tajam jenis badik dan perlengkapan bengkel yang digunakan untuk pencurian.

Direktur Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Kalteng Kombes Pol Faisal F Napitupulu mengatakan, Prihartono terpaksa dilumpuhkan dengan tembakan di dada lantaran membahayakan nyawa petugas. Saat penangkapan, napi itu menyerang dan berniat menikam petugas. Pihaknya telah berusaha menyelamatkan nyawanya.

Dari hasil pemeriksaan dua narapidana yang kini diamankan di Polresta Palangka Raya itu, mereka berencana melarikan diri ke negara tetangga, yakni Malaysia atau Brunei Darussalam melalui jalur darat.

”Apabila sampai di salah satu negara tersebut, mereka akan bekerja sebagai sopir, karena salah satu di antara mereka pernah bekerja di negara tersebut,” ujarnya.

Menurut Faisal, aksi pelarian tersebut dirancang dengan sangat matang oleh empat napi. Setelah dari Lapas, mereka membuat rencana dan masing-masing napi memiliki peran dalam setiap langkah mereka.



Pos terkait