Oleh: Tuti Marinus Lailani (Dokter Umum di RSUD Sukamara) | radarsampit.com
Pembicaraan seks dari zaman dulu sampai sekarang belum mengalami perubahan. Adanya rasa malu hingga tabu untuk dibicarakan secara umum membuat kurangnya informasi yang didapatkan oleh anak.
Dalam keluarga, pendidikan seks yang diberikan sangat minim sekali. Apalagi jika orang tua tidak mempunyai pendidikan yang baik mengenai seks. Jika melihat di lingkungan sekitar, anak-anak umur lima tahun saja sudah bisa mengakses internet menggunakan handphone dengan lancarnya.
Akan tetapi, sebagai orang tua, jika tidak memberikan pengetahuan pendidikan mengenai seks kepada anak, maka akan menyebabkan anak mencari informasi sendiri dengan akses paling mungkin adalah melalui jaringan media sosial.
Pemerintah Indonesia sudah melakukan berbagai upaya dalam memberikan pendidikan seks kepada anak-anak usia sekolah dengan melakukan penyuluhan ke sekolah, hingga pemberian informasi melalui media massa. Akan tetapi, sejauh ini program tersebut masih dikatakan jauh dari kata berhasil, yang dibuktikan dengan tingginya angka pernikahan dini di Indonesia.
Pada tahun 2022, jumlah pernikahan dini di Indonesia mencapai 50.673 pengajuan pernikahan anak. Menurun penurunan dibandingkan 2021 yang sebanyak 61.449 pengajuan pernikahan anak. Penurunan ini dapat terjadi karena pemerintah terus memperketat syarat pengajuan pernikahan. Namun, di masyarakat masih banyak kasus pernikahan pada anak yang hanya dilakukan secara adat. Jika usia persyaratan pernikahan secara sipil sudah memenuhi, akan dilakukan pencatatan.
Rendahnya pendidikan seks pada anak dapat menyebabkan terjadinya berbagai masalah, seperti meningkatnya kejadian infeksi menular seksual, kanker serviks hingga kehamilan di luar nikah. Kehamilan di luar nikah dari orang tua yang pengetahuan akan pernikahan, kehamilan, dan pertumbuhan anak rendah, akan menimbulkan masalah baru.
Anak yang terlahir dari orang tua yang minim pengetahuan terhadap pertumbuhan anak, akan menyebabkan terjadinya stunting pada anak. Angka stunting di Indonesia pada 2022 mencapai 21,6%. Presiden Joko Widodo menargetkan angka stunting di Indonesia dapat turun hingga mencapai 14% pada tahun 2024. Dengan rendahnya target angka stunting tersebut, diperlukan kerja keras untuk mencapainya.
Anak dengan stunting akan tumbuh dengan berbagai masalah. Salah satunya penurunan kemampuan berpikir yang nantinya akan memengaruhi kualitas sumber daya manusia di Indonesia.
Pendidikan seks memerlukan kerja sama dari berbagai pihak. Pemerintah melalui instansi terkait tidak dapat bekerja sendiri. Diperlukan kerja sama orang tua dalam memberikan pendidikan seks kepada anak. Akan tetapi, tidak semua orang tua dapat berbagi informasi mengenai seks kepada anak-anak mereka di rumah.
Rendahnya pengetahuan mengenai seks hingga cara penyampaian yang sulit untuk diterapkan oleh orang tua kepada anak, menyebabkan anak hanya diajarkan mengenai larangan berdasarkan agama.
Perlu program yang tidak hanya berfokus pada anak, tetapi juga pada orang tua dalam memberikan pengetahuan dasar mengenai seks, akibat, hingga cara bagaimana orang tua mengedukasi anak mengenai pendidikan seks di rumah.
Pendidikan seksual untuk anak dapat dimulai dari usia 3-4 tahun. Pemberian pendidikan ini diberikan secara bertahap dan terus menerus sesuai dengan umur anak.
Pendidikan ini berlanjut hingga anak mencapai usia pubertas, maka pengetahuan yang diberikan dapat lebih mendalam. Salah satunya adalah pengetahuan mengenai seks yang aman.








