Pecahan Keramik Diduga Asal Dinasti Ming

Sejumlah Artefak Ditemukan di Situs Puruk Amai Rawang

Perwakilan tim peneliti Balai Arkeologi Banjarmasin wilayah kerja zona Kalimantan M Wishnu Wibisono, menyerahkan temuan artefak ke Disbudpar Kabupaten Gumas, yang diterima oleh Kabid Pelestarian Cagar Budaya, Permuseuman dan Registrasi Data Yudi Darma, Minggu (17/10).(istimewa)

KUALA KURUN – Tim peneliti dari Balai Arkeologi Banjarmasin wilayah kerja zona kalimantan sudah melakukan penelitian di situs Puruk Amai Rawang, Desa Upon Batu, Kecamatan Tewah, Kabupaten Gunung Mas (Gumas). Hasilnya ditemukan berbagai artefak.

”Artefak yang kami temukan seperti keramik, gerabah, hulu pedang atau parang, dan lainnya. Temuan tersebut kami serahkan ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Gumas,” ucap perwakilan Tim peneliti Balai Arkeologi M Wishnu Wibisono, Minggu (17/10).

Selain artefak lanjut dia, juga ditemukan sisa-sisa benteng atau kuta dan sisa-sisa struktur dari betang. Dari hasil tersebut, tim akan mencoba menginterpretasikan kembali melalui gambar tiga dimensi maupun dua dimensi.

”Khusus temuan keramik, kami perkirakan berasal dari Dinasti Ming atau Dinasti Ching. Untuk mengetahui masa keramik, baik itu dimensi, fungsi, serta asalnya, tim akan melakukan analisis lebih lanjut,” terangnya.

Selama di lapangan, kata dia, tim yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu tersebut melakukan berbagai kegiatan seperti penggalian atau ekskavasi, wawancara, serta identifikasi pola ruang.

”Hasil dari penelitian ini akan kami susun dalam suatu laporan, yang diperkirakan akan selesai pada awal tahun 2022 mendatang,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Disbudpar Kabupaten Gumas Eigh Manto, melalui Kabid Pelestarian Cagar Budaya, Permuseuman, dan Registrasi Data Yudi Darma berterima kasih dan apresiasi kepada Balai Arkeologi Banjarmasin wilayah kerja zona Kalimantan yang telah melakukan penelitian di situs Puruk Amai Rawang.

”Situs Puruk Amai Rawang merupakan perbukitan yang menjadi tempat tinggal seorang tokoh, yakni Tamanggung Amai Rawang dan istri pada zaman dulu,” ujar dia.

Dia juga meminta kepada masyarakat Desa Upon Batu untuk bersama-sama dalam menjaga dan melestarikan berbagai aset, yakni benda cagar budaya yang ada di desa setempat.

”Nantinya itu dapat menjadi jalur atau pintu masuk bagi penelitian lain, serta bisa menambah khazanah budaya, khususnya di Kabupaten Gumas,” tandas Eigh Manto . (arm/gus)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *