Perangkap Mematikan di Lubang Tambang

Tragedi Maut Ungkap Maraknya Tambang Ilegal di Bukit Santuai

tambang maut di kotim
TELAN KORBAN: Lokasi tambang emas tradisional di Desa Tumbang Torung yang menelan enam korban jiwa. (IST/RADAR SAMPIT)

SAMPIT – Tragedi maut tewasnya enam penambang emas tradisional di Desa Tumbang Torung, menyibak fakta masih maraknya aktivitas ilegal tersebut. Para pekerja yang tak dilengkapi fasilitas keamanan memadai, menghadapi ancaman kematian dari perangkap lubang tambang yang bisa mencabut nyawa kapan saja.

Sekretaris Camat Bukit Santuai Situk Rustian memastikan lokasi penambangan di kawasan Desa Torung tersebut tak berizin. Dia memperkirakan ada sejumlah tambang rakyat serupa di wilayah tersebut.

Bacaan Lainnya

”Melihat dari luas wilayahnya, perkiraan ada sepuluh kelompok lokasi tambang rakyat, termasuk satu kelompok yang berada di tempat kejadian sebelumnya. Secara keseluruhan di Kecamatan Bukit Santuai saya kurang mengetahui, karena saya baru bertugas di sini,” ujar Situk, Jumat (29/10).

Dia menambahkan, lokasi tambang rakyat tersebut berjalan sejak 2019 lalu. Namun, sempat berhenti beraktivitas. ”Pekerjanya baru aktif bekerja kurang lebih satu bulan ini,” ucapnya seraya mengaku baru mengetahui ada lokasi tambang emas tradisional di Desa Tumbang Torung.

Baca Juga :  Sudah Ditutup Polisi, Penambang Emas Ilegal Masih Kucing-kucingan

Situk tak tahu pengelola tambang di lokasi tersebut, termasuk pemilik lahannya. Dia hanya memperoleh informasi, bahwa di tambang maut tersebut ada sebelas pekerja. Sampai akhirnya tragedi mematikan longsoran tanah terjadi dan merenggut nyawa enam penambang saat berada dalam tanah.

Situk menambahkan, enam jenazah korban telah dibawa keluarga masing-masing ke rumah duka setelah aparat kepolisian tiba di lokasi. ”Kabarnya sudah sampai di tempat asalnya masing-masing,” ujarnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.