SAMPIT, RadarSampit.com– Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Bandara Haji Asan Sampit mengimbau warga di pesisir pantai dan bantaran sungai agar waspada kemungkinan terjadinya genangan banjir. Hal itu disebabkan kondisi pasang air laut yang terjadi di sejumlah perairan laut Indonesia.
Kepala BMKG Kotim Musuhanaya mengatakan, fenomena air pasang dapat dipengaruhi oleh adanya fase bulan purnama dan kondisi di mana jarak terdekat bulan ke bumi, sehingga dapat menimbulkan banjir di pesisir pantai.
”Fenomena air pasang terjadi karena naik turunnya posisi permukaan perairan atau samudera yang disebabkan pengaruh gaya gravitasi bulan dan matahari. Tiga sumber gaya, yakni laut, matahari, dan bulan saling berinteraksi,” kata Musuhanaya, Selasa (24/5).
Musuhanaya mengatakan, fenomena pasang air laut dapat menyebabkan perubahan kedalaman perairan yang mengakibatkan arus pusaran atau dikenal dengan arus pasang.
Berdasarkan pengukuran data pasang air laut yang dilakukan instansi Pusat Hidro-Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal) pada 24 Mei 2022, menunjukkan kondisi air pasang terjadi sekitar pukul 10.00-11.00 WIB dan puncaknya pada 12.00-14.00 WIB. Ketinggian gelombang air laut dapat mencapai 3,2 meter. Namun, pada pukul 05.00-07.00 WIB dan 20.00-22.00 WIB, air laut kembali surut di kisaran 0,70 – 1,4 meter.
”Saat kondisi air pasang yang perlu diwaspadai itu ombaknya yang bisa mencapai 3 meter. Nelayan, diimbau untuk waspada dan sebaiknya menghentikan aktivitas menangkap ikan apabila kondisi ombak sedang tinggi,” ujarnya.
Selain itu, potensi banjir juga kemungkinan terjadi di sekitar pesisir pantai, seperti Kecamatan Teluk Sampit, Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara.
”Bagi masyarakat, khususnya di daerah pesisir dan bantaran sungai, perlu waspada kemungkinan terjadi genangan banjir saat kondisi pasang surut air laut. Meskipun genangan banjir kemungkinan tak berlangsung lama, apabila disertai hujan deras, dikhawatirkan meninggi,” katanya.
Camat Mentaya Hilir Selatan Syahrial mengatakan, wilayahnya sempat dilanda banjir sejak Minggu (22/5). ”Hampir semua desa di pesisir pantai dan bantaran sungai banjir. Sudah biasa terjadi saat air pasang naik. Tetapi, dua sampai tiga jam cepat surutnya,” kata Syahrial.
Ketinggian banjir berkisar 30-50 cm dari atas permukaan tanah. Meski sudah surut, kemungkinan genangan banjir akan kembali terjadi saat kondisi pasang air laut.
”Sekarang posisinya sudah surut normal. Hanya ada di beberapa titik dataran terendah yang masih tergenang. Tetapi, kami imbau warga tetap waspada. Kemungkinan akan terjadi genangan banjir selama kondisi air laut pasang. Walaupun tidak hujan, tetap banjir karena air pasang. Apalagi ditambah hujan deras, genangan banjir lebih lama surutnya,” ujarnya.
Dua Hari Terendam
Di Katingan Kuala, Kabupaten Katingan, banjir akibat air pasang masih merendam sejumlah jalan dan halaman rumah warga. Kendati demikian, kegiatan warga di wilayah itu masih berjalan seperti biasa, belum mengganggu aktivitas warga.
Camat Katingan Kuala Hariadi Utomo mengatakan, banjir telah merendam sejak dua hari lalu. Namun, air tidak sampai merendam permukiman warga. Air pasang datang dari pesisir laut karena kecamatan tersebut berada di muara Sungai Katingan dan dekat dengan Laut Jawa.
”Banjir rob ini mulai merendam sekitar pukul 11.00 menjelang siang. Tetapi, hanya merendam jalan dan halaman pekarangan warga saja, tidak begitu parah,” ujarnya.
Dia menuturkan, banjir tersebut hanya terjadi sementara dan tidak parah seperti yang terjadi di wilayah Katingan bagian hulu pada periode September dan November. Karena itu tidak perlu dikhawatirkan.







