Ratusan Sapi Gagal Masuk Sampit, Pengusaha Sapi Kurban Merugi Ratusan Juta

Sapi gagal masuk kotim
Ilustrasi. (M Faisal/Radar Sampit)

SAMPIT, RadarSampit.com – Ratusan sapi yang sedianya didatangkan dari Jawa Timur, gagal masuk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur. Pasokan sapi untuk memenuhi kebutuhan saat Hari Raya Iduladha itu terkendala pembatasan lalu lintas pengiriman dari luar daerah yang terindikasi terinfeksi wabah penyakit mulut dan kuku yang menjangkiti ternak.

Kebijakan tersebut mengacu Surat Edaran Nomor 12950/KR.120/K/05/2022 yang dikeluaran Badan Karantina Pertanian pada 6 Mei 2022 tentang peningkatan kewaspadaan terhadap kejadian PMK. Gagalnya pengiriman sapi membuat pengusaha ternak merugi hingga ratusan juta rupiah.

Bacaan Lainnya

Syamsul Bahri, pengusaha sapi kurban mengaku telah memesan sapi sebanyak 318 ekor dan 120 ekor kambing asal Madura, Jawa Timur yang diperkirakan datang pada 4 Juni 2022. Namun, rencana itu gagal setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan larangan pengiriman keluar sapi asal Madura.

”Sudah pesan, sudah bayar uang muka Rp 400 juta. Rencananya datang bertahap. 20 hari menjelang Lebaran datangkan lagi 150 ekor dan 100 ekor kambing lewat pengiriman kapal kayu. Setelah dikabari dari penyuplai, semua sapi asal Madura tidak bisa dikirim keluar daerah seluruh Indonesia, termasuk Kotim,” kata Syamsul.

Syamsul sudah memasang harga di kisaran Rp 17,5 juta – Rp 28 juta per ekor sapi dan Rp 3,3 – Rp 4,5 juta per ekor kambing. Tergantung besar kecilnya ukuran.

”Harga sapi mengalami kenaikan Rp 1 juta dan kambing naik Rp 500 ribu dibandingkan tahun lalu. Saya mengambil keuntungan Rp 700 ribu untuk sapi dan Rp 400 ribu untuk kambing,” ujarnya.

Syamsul mengungkapkan, sudah banyak orang yang memesan sapi dengannya. ”Sudah ada yang pesan 48 ekor. Sapinya tidak ada. Apa yang mau dijual? Niat ingin jualan mencari rezeki saat Iduladha, ternyata malah rugi. Uang muka tak bisa dikembalikan. Mau tak mau tunggu tahun depan,” katanya.

Syamsul mengaku kecewa. Selama ini dia kerap sudah berlangganan memesan sapi asal Madura. Pasalnya, sapi berkulit cokelat lebih banyak diminati masyarakat.

”Sapi dari Bugis, Sulawesi, NTT, dan Bali sebenarnya bisa kirim keluar daerah. Saya tak pesan. Penjualannya susah, karena masyarakat Sampit senangnya sapi Madura. Dagingnya tak bau dan empuk,” ujarnya.

Dia menduga ada permainan politik menjelang Pemilu 2024 terkait keluarnya kebijakan tersebut. ”Kalau dilarang kirim keluar daerah, kenapa tak semua ternak dilarang? Sapi dari Sulawesi, NTT, Bali boleh kirim. Saya menduga ada pengaruh politik,” ujarnya.

Sugito, pengusaha sapi lainnya juga selalu mendatangkan sapi dari Madura. Dia mengaku resah dengan kebijakan pemerintah yang memberlakukan pembatasan pengiriman.

”Saya sudah pesan sapi setelah Idulfitri. Barangnya sudah siap, cuma pengiriman ke sininya yang belum bisa. Barang dari Jawa belum boleh masuk Kotim,” kata Sugito.

Sugito mengaku telah memesan masing-masing seratus ekor sapi dan kambing. ”Pesannya bertahap. Pesan pertama seratus ekor sapi dan seratus ekor kambing. Dekat Iduladha biasanya pesan lagi. Tergantung permintaan. Tahun kemarin cuma berani pesan 90 ekor. Tahun ini saya berharap penjualan sapi meningkat. Malah ada pembatasan. Padahal, dari pemerintah di Surabaya sudah mengizinkan pengiriman sapi asalkan sudah dapat dipastikan bebas wabah PMK,” ujarnya.

Dia berupaya mengajukan usulan permohonan ke Dinas Pertanian Kotim yang kemudian ditembuskan ke Pemerintah Provinsi Kalteng. Namun, hingga kini masih belum ada kejelasan sampai kapan pembatasan pengiriman dari Jawa ke Kotim berakhir.

”Kotim itu tidak punya peternak besar. Sebagian besar sapi dan kambing didatangkan dari luar daerah. Paling banyak dari Madura, Sulawesi, dan NTT. Ada juga yang didatangkan dari peternak besar di Kabupaten Kotawaringin Barat. Kalau pembatasan ini masih terus diberlakukan, 1,5 bulan lagi Iduladha, bisa-bisa masyarakat tak banyak yang bisa berkurban, karena stok sapi dan kambingnya terbatas,” ujar pria yang aktif sebagai Bendahara DPC PDIP Kotim ini.

Pos terkait