Harga sejumlah bahan kebutuhan pokok di Kota Sampit perlahan mulai naik menjelang Ramadan. Belum diketahui pasti penyebab naiknya sejumlah komoditas itu.
HENY, Sampit | radarsampit.com
Kenaikan harga beras di Indonesia, termasuk di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menjadi tanda tanya di kalangan masyarakat. Harganya yang tiba-tiba melambung tinggi di kisaran Rp8-15 ribu per kilogram membuat masyarakat harus merogoh kocek dalam-dalam.
Pantauan Radar Sampit, harga beras sebenarnya sudah mulai mengalami kenaikan sejak September 2022 lalu. Di tahun 2023, tak kunjung turun, justru terus berangsur naik hingga memasuki Februari 2024. Alasan kenaikan masih sama; gagal panen karena faktor perubahan iklim cuaca.
Akbar, pedagang beras di Kios Akbar Jalan Juanda mengatakan, harga beras Jawa pabrikan kemasan 5 kilogram, seperti merk Kura-Kura mengalami kenaikan sebesar Rp15 ribu, dari Rp85 ribu naik menjadi Rp90 ribu sejak setengah bulan lalu.
Begitu pula dengan beras merk Dua Anak yang juga naik dari Rp88 ribu menjadi Rp93 ribu dan Anak Ayam dari Rp85 ribu naik menjadi Rp78 ribu.
”Saya hanya jual tiga merk ini saja, yang memang sering dicari warga Sampit. Ketiga merk ini sudah naik setengah bulan ini,” kata Akbar Sampit, Rabu (27/2/2024).
Untuk beras lokal seperti Beras Epang Samuda, mengalami kenaikan dari Rp15 ribu menjadi Rp18 ribu per kilogram, Epang Kuala dari Rp16 ribu, naik menjadi Rp20 ribu per kg, Beras Banjar Mayang Hanyar dari Rp19-20 ribu naik menjadi Rp26 ribu dan Mayang Usang dari Rp25 ribu naik menjadi Rp30 ribu per kg. Ada pula beras impor dari Thailand yang sebelumnya dijual Rp13 ribu, kini naik menjadi Rp16 ribu per kg.
”Kenaikan beras lokal ini sudah lama, lebih dari enam bulan lalu. Kenaikannya tidak bertahap, seperti beras Epang Kuala itu dari Rp16 ribu, naik Rp17 ribu, naik Rp18 ribu dan sekarang harga jualnya Rp20 ribu per kilogram. Ini semua beras arau (pera), saya enggak jual beras lokal pulen karena kurang peminatnya kalau di kios saya,” ujarnya.
Ditanya sebab kenaikan harga beras, Akbar menerima kabar kenaikan disebabkan faktor perubahan iklim yang mengakibatkan petani gagal panen. Sebagian juga disebabkan beras terkena serangan hama.
”Naiknya saya kurang tahu pasti, tapi dari informasi orang yang jual beras ke saya, sebabnya karena ada yang gagal panen dan ada juga yang disebabkan karena terkena serangan hama,” ujar Akbar.
Bukan hanya beras, Akbar yang juga menjual telur mengaku komoditas itu mengalami kenaikan. Telur ayam ras per ikat (6 krat) dijual dari harga Rp330 ribu, naik Rp20 ribu menjadi Rp350 ribu.
Sedangkan harga per krat (isi 30 butir) dijual dari harga Rp50-60 ribu per krat, kini dijual Rp60-70 ribu per kilogram.
”Harga telur naik per hari ini (Rabu, 27 Februari). Jual per ikat saja sudah naik Rp20 ribu. Jual per krat beda-beda, tergantung besar kecil ukuran. Rata-rata naiknya Rp10 ribu per krat,” ujarnya.
Selain itu, telur itik (bebek) juga naik Rp95-100 ribu per krat, telur ayam kampung naik Rp5 ribu menjadi Rp95 ribu per krat dan telur puyuh dari Rp35 ribu naik menjadi Rp40 ribu per krat.
”Telur bebek dan telur puyuh sudah naik sebulan lebih. Telur ayam kampung dan telur ayam ras yang naik per hari ini. Kenaikan harga disebabkan harga pakan naik, tetapi memang setiap menjelang Ramadan kebutuhan bahan pokok rata-rata pada naik semua,” ujarnya.
Seperti bawang putih yang sebelumnya sudah naik di kisaran Rp37-38 ribu per kilogram, kini naik lagi menjadi Rp40 ribu per kilogram dan bawang merah Pontianak dari Rp35 ribu naik menjadi Rp40 ribu per kilogram.








