Banjir Datang Lagi

banjir sampit
Hujan deras menggenangi beberapa ruas jalan di Kota Sampit, Kamis (11/11).

Menurutnya, beberapa kecamatan rawan banjir, terutama di daerah hulu. Dirinya juga mewanti-wanti masyarakat di daerah rawan banjir untuk waspada.  Halikinnor juga berharap masyarakat tidak membuang sampah sembarangan yang berakibat drainase  tersumbat.

Kondisi serupa juga terjadi di Kapuas. Debit air beberapa sungai di Kapuas mulai naik.  Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kapuas Panahatan Sinaga meminta masyarakat untuk waspada.

“Wilayah hulu sudah mengalami banjir, seperti di Kecamatan Pasak Talawang dan Mandau Talawang yang debit airnya sudah meningkat,” katanya, Kamis (11/11) kemarin.

Ia menuturkan, wilayah yang saat ini debit air meningkat yakni Desa Batu Sambung, Kaburan, Tumbang Diring, Dandang, Tumbang Tukun, Jangkang.  “Di beberapa desa itu air sudah naik walau sehari dan saat ini sudah surut, tetapi harus diwaspadai, karena sewaktu-waktu air bisa kembali naik dari aliran sungai di daerah sana, karena sering hujan,” katanya lagi.

Menurutnya, fenomena La Nina meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia termasuk di wilayah Kalteng. Hal ini perlu diwaspadai mengingat wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) yang sudah memasuki musim hujan.

Baca Juga :  Negara Tak Boleh Kalah, Perlu Dukungan Pemerintah hingga Tentara Bersihkan Kampung Narkoba

“Terutama di Desember 2021, Januari, dan Maret 2022 yang diprakirakan merupakan puncak musim hujan di Kalteng. Dikhawatirkan terdapat peningkatan curah hujan yang signifikan pada bulan-bulan tersebut,” bebernya.

Disinggung dengan persiapan alat dan kebutuhan saat penanganan banjir, pihaknya bersama Intansi terkait seperti Polri, TNI, tagana, dan lainnya telah menyiapkan apa yang nanti dibutuhkan dalam penanganan bencana banjir di wilayah Kabupaten kapuas.

Di Kotawaringin Barat, debit air di hulu Sungai Arut, Kecamatan Arut Utara, juga naik. Akibatnya Sungai Arut meluap dan merendam kawasan permukiman warga setempat.   Terendamnya jalan di permukiman tersebut berakibat pada terganggungan aktivitas warga. Mereka kini mulai menggunakan transportasi air seperti perahu.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *