Lomba menulis surat untuk Bupati Kotim yang diselenggarakan Radar Sampit di tingkat pelajar SMP dan SMA diikuti ratusan pelajar. Lebih dari 200 peserta menuangkan tulisan penuh harap yang ditujukan kepada pemimpin daerah demi terwujudnya perubahan terhadap perkembangan Kotim di masa depan.
HENY PUSNITA, Sampit | radarsampit.com
Penyediaan fasilitas untuk penyandang disabilitas di Kabupaten Kotawaringin Timur masih terbatas. Trotoar yang difungsikan sebagai pejalan kaki dan keramik difabel pedestrian untuk jalur disabilitas yang sudah difasilitasi pemerintah daerah nampaknya masih menjadi perhatian publik.
Maharani Ayu Diah, pelajar Kelas VII SMPN 1 Sampit, berani menuangkan pengalamannya dalam surat yang ia tulis tangan untuk Bupati Kotim pada 26 April 2025. Ia melihat fasilitas publik seperti trotoar untuk jalur disabilitas di Jalan Jenderal Ahmad Yani dan MT Haryono masih perlu perhatian.
Trotoar yang dibuat terlalu tinggi dan jalur landai yang dibuat terlalu curam membuat tidak nyaman bagi pengguna kursi roda maupun pengguna alat bantu kruk dan tongkat.
“Saya melihat sendiri bagaimana kesulitannya orang lanjut usia (lansia) pengguna kursi roda yang sedang berkunjung ke taman tidak bisa leluasa bergerak karena kurangnya akses bagi jalur disabilitas. Beliau hanya bisa duduk di tepi jalan, menunggu anak dan cucunya bermain,” ucap remaja yang 8 Agustus 2025 nanti berusia 14 tahun.
Menurutnya, ruang publik masih belum ramah disabilitas. Meskipun penyediaan fasilitas sudah tersedia, namun masih kurang memperhatikan fungsi.
Contohnya, jalur disabilitas untuk kursi roda di Ikon Jelawat yang jalur landainya dibuat curam dan berkeramik licin sehingga rawan tergelincir.
“Ruang publik di Sampit sepertinya masih belum ramah bagi mereka yang memiliki keterbatasan fisik. Bahkan nenek saya yang sudah tiga tahun ini menggunakan alat bantu kruk untuk berjalan cukup kesulitan melewati jalur yang aman dipijak,” ujar gadis berkerudung putih yang akrab disapa Ayu.
Ayu berpikir bahwa fasilitas publik yang ramah difabel bukan hanya kebutuhan, tetapi bentuk penghormatan kepada semua warga. Penyandang disabilitas bukan hanya mereka yang mengalami cacat bawaan, lansia, penderita stroke, dan siapa pun yang sedang dalam masa pemulihan.
“Saya melihat fasilitas publik yang ramah disabilitas khususnya sebagai pengguna kursi roda dan alat bantu tongkat dan kruk masih sangat terbatas,” ujarnya.
Selain itu, belum tersedia perpustakaan yang menyediakan buku braille atau audio khusus untuk tunanetra.
“Saya bermimpi Kotim menjadi daerah yang berar-benar Bahalap yang artinya baik. Membangun rasa empati dan kebersamaan menjadi penting agar semua warga merasa dihargai tanpa memandang perbedaan kondisi fisik,” ujar Ayu.
Surat yang ditulis Ayu ini salah satu tulisan peserta yang menarik perhatian tiga juri yaitu Gunawan Pemimpin Redaksi Radar Sampit, Heru Prayitno Redaktur Radar Sampit dan Siti Fauziah Direktur Radar Sampit. Ayu terpilih sebagai juara 1 kategori jenjang pendidikan SMP dengan perolehan nilai 91,5 poin.
Tidak hanya Ayu, ada lima peserta lain yang juga merupakan pelajar SMPN 1 Sampit juga meraih juara 2 bernama Tri Wahyudha Saputra dengan perolehan 91 poin, juara III diraih Angelina Hilmiyah Guenens dengan perolehan 90 poin.
Juri juga memberikan penilaian juara harapan 1 yang diraih Cahya Zebina Oz Zhira dengan nilai 87 poin, Muhammad Alqi meraih juara harapan 2 dengan nilai 86,5, Adelia Riata Saragih meraih juara harapan 3 dengan nilai 86 poin. Sedangkan, juara harapan 4 diraih Kayla Putri Hidayat pelajar SMP IT Al Madaniyah dengan perolehan nilai 86 poin.








