Berkelahi Lagi, Miras Lagi, Kawasan Bundaran Pancasila Makin Tak Nyaman

ilustrasi bentrok
Ilustrasi perkelahian (MAHENDRA ADITYA/JAWA POS RADAR KUDUS)

Radarsampit.com – Keributan antarpemuda kembali pecah di kawasan Bundaran Pancasila, Jalan Iskandar, Pangkalan Bun, Senin (10/11/2025) dini hari, sekitar pukul 00.30 WIB.

Aksi adu fisik yang diduga kuat dipicu konsumsi minuman keras (miras) itu sempat memancing perhatian warga sekitar. Berbeda dengan insiden sebelumnya, kali ini tidak ada rekaman video yang beredar di media sosial.

Bacaan Lainnya

Namun, sejumlah warga mengaku sempat menyaksikan langsung perkelahian yang membuat suasana kawasan pusat kota tersebut mendadak ricuh.

Seorang saksi mata menuturkan, sebelum perkelahian pecah, sekelompok pemuda terlihat nongkrong di depan Taman Kolaborasi, tak jauh dari bundaran.

”Saya melihatnya sendiri, mereka bergiliran menakar minuman yang diduga miras. Tidak lama kemudian, tiba-tiba ribut,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.

Keributan itu berlangsung singkat, namun cukup mengganggu ketenangan warga yang tinggal di sekitar lokasi.

Ketua Persatuan Orang Melayu (POM) Kotawaringin Barat, Majekur Arajak, prihatin dengan insiden tersebut. Perkelahian di kawasan ikonik itu telah mencoreng wajah Pangkalan Bun yang dikenal aman dan kondusif.

”Kami dari POM sangat prihatin dan khawatir. Kami mengajak masyarakat bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan kita,” ujarnya.

Majekur menegaskan, insiden serupa bukan pertama kali terjadi dan hampir selalu dipicu oleh miras.

Dia mengingatkan di Kobar sudah ada Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 2006 yang secara tegas melarang peredaran dan penjualan minuman keras.

”Perda ini harus ditegakkan dengan serius. Jangan hanya menindak peminumnya, tapi juga para pengedar dan penjualnya,” tegasnya.

Menurutnya, kondisi sosial masyarakat Kobar cukup sensitif, sehingga jika masalah miras dibiarkan tanpa penegakan tegas, potensi konflik bisa meluas dan mengancam stabilitas keamanan daerah.

”Sekarang mungkin hanya dua kelompok yang terlibat. Tapi kalau dibiarkan, bisa menimbulkan keresahan yang lebih besar dan mengancam keamanan wilayah,” ujarnya.

Pos terkait