Desa Nanga Mua Masih Kebanjiran

MASIH KEBANJIRAN: Pemerintah Desa Nanga Mua saat menyerahkan bantuan korban banjir, Minggu (29/8). Beberapa kawasan permukiman warga Desa Nanga Mua masih terendam banjir luapan Sungai Arut. Kawasan paling hilir di Kecamatan Arut Utara ini biasanya menjadi kawasan paling lama yang merasakan dampak banjir tersebut. (ISTIMEWA/RADAR PANGKALAN BUN)

ARUT UTARA-Musibah banjir akibat luapan Sungai Arut selama dua pekan ini membuat ratusan rumah di wilayah Kecamatan Arut Utara, Kotawaringin Barat Kalimantan Tengah, terendam banjir, Minggu (28/8) sore.

Pekan lalu debait air di Desa Sungai Dau, Sambi, Penyombaan, Panahan, Riam, Pandau dan Kerabu mencapai dua meter. Belum usai bencana di desa-desa hulu, kini banjir melanda Desa Gandis, Sukarami dan Kelurahan Pangkut. Dan kini, air yang dari hulu pindah posisi ke desa paling hilir yakni Desa Nanga Mua dan merendam 57 Kepala Keluarga dengan total 191 jiwa.

Bacaan Lainnya

Kepala Desa Nanga Mua, Heri Yanto menuturkan bahwa luapan Sungai Arut terhitung hampir sepekan ini. Saat ini air masih naik dengan ketinggian 1,5 meter lebih hingga merendam puluhan rumah warga di RT 1, 2 dan 3. Ia menjelaskan, jika debit air naik 30 centimeter lagi maka kondisi banjir kali ini akan sama yang terjadi pada tahun 2020 lalu. “Saat ini warga sudah pasang panggung di dalam rumah. Hal itu untuk mengatisipasi jika debit air semakin tinggi,” tuturnya.

Fungsi panggung sendiri, jelas Heri, guna mengamankan harta bendanya dan juga dijadikan tempat tidur. Meski demikian ada juga warga yang mengungsi ke rumah saudaranya yang lebih tinggi.

Heri juga mengingatkan kepada seluruh warga agar selalu waspada atas kemungkinan yang terjadi. Seperti kebakaran karena kompor gas, binatang yang muncul dari air, mandi dengan menggunakan air bersih serta tetap jaga jarak dan memakai masker mengingat saat ini masih musim pandemi Covid-19.

Menurutnya dari 57 KK yang terdampak, semuanya sudah mendapatkan bantuan berupa beras, mie, minyak goreng, dan telur. Bahan pangan itu merupakan bantuan gotong royong yang bersumber dari pemerintah desa, kecamatan, kabupaten, dan seluruh perusahaan yang berada di wilayah Kecamatan Arut Utara. “Kami akan inventarisir kebutuhan warga terdampak. Termasuk soal keselamatan dan kesehatan warga,” ucap Heri.

Perlu diketahui, bencana banjir yang terjadi setiap tahun ini diawali dari desa paling hulu yaitu desa-desa yang berada di wilayah perbukitan. Maka tak ayal jika penanganan pun dalam musibah tahunan ini kerap kali desa yang paling hilir seperti Desa Nanga Mua ini kurang mendapatkan perhatian seperti desa lainnya. Hal itu dimaklumi, karena energi para relawan dan pihak terkait sudah terkuras sebelumnya. (sla)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *