Dharma Lautan Stop Pelayaran Sampit

Dharma Lautan Stop Pelayaran Sampit
MASIH NORMAL: Para Penumpang yang akan berangkat ke Surabaya melalui Pelabuhan Penumpang Sampit menggunakan KM. Kirana III, Sabtu (17/4) pagi.

SAMPIT – Larangan truk masuk Kota Sampit berdampak besar terhadap mobilitas angkutan di Pelabuhan Sampit. Truk tidak bisa masuk pelabuhan. Kapal Kirana I tujuan Semarang dan Kirana III tujuan Surabaya pun kehilangan muatan kendaraan. PT Dharma Lautan Utama akhirnya  memutuskan menghentikan sementara pelayaran dari dan menuju ke Pelabuhan Sampit.

Manager PT DLU Cabang Sampit Hendrik Sugiharto mengatakan, berlakunya aturan dari Dinas Perhubungan Kotim yang melarang kendaraan bermuatan berat melintas jalur menuju Pelabuhan mempengaruhi muatan yang akan berangkat dari Sampit ke Surabaya.

Adanya larangan ini sangat berdampak signifikan. Pihaknya juga sudah mendapatkan surat edaran yang melarang truk angkutan sembako melalui pintu keluar masuk menuju pelabuhan.

“Otomatis yang dari atau keluar kota ini kesulitan untuk masuk ke Pelabuhan Sampit,” tuturnya.

hKirana seharusnya bisa membawa 12 unit kendaraan, akan tetapi yang masuk pelabuhan hanya dua unit. Sisanya 10 unit melalui jalur Pelabuhan Kumai Pangkalan Bun.

Menurutnya, PT DLU menghentikan sementara pelayaran menuju Sampit sambil menunggu aturan yang jelas terkait akses kendaraan besar menuju Pelabuhan Sampit.

PT Dharma Lautan membatalkan 10 jadwal keberangkatan dari 18 April 2021 sampai 11 Mei 2021. Hendrik mengatakan, pihaknya sudah menyurati Dinas Perhubungan Kotim untuk meminta kebijakan khusus mengenai akses jalan kendaraan logistik menuju Pelabuhan Sampit.

“Hingga kini kami masih menunggu kepastian dari pemerintah setempat,” tandasnya.

Menurutnya, keberangkatan KM Kirana I dan KM Kirana III kemarin merupakan keberangkatan terakhir. Hampir 500 orang penumpang berangkat menuju Surabaya dan Semarang, Sabtu (17/4) pagi. KM Kirana I menuju Semarang mengangkut sebanyak 247 orang berangkat pukul 07.00 WIB, sedangkan KM Kirana III menuju Surabaya membawa 251 orang berangkat pukul 09.00 WIB.

“Kurang lebih dua kapal hampir 500 orang penumpang yang kami berangkatkan dari Sampit ke Pulau Jawa hari ini,” ujarnya kemarin (17/4).

Hendrik mengatakan, tidak ada lonjakan jumlah penumpang yang mudik lebih awal meski ada larangan mudik mulai tanggal 6 Mei.

“Kapasitas masing-masing untuk KM. Kirana I totalnya 590, sedangkan KM. Kirana III mampu mengangkut 630 penumpang,” terangnya.

Sedangkan untuk muatan kendaraan, KM. Kirana I membawa kurang lebih sekitar 19 unit sepeda motor, 9 kendaraan keluarga (KK) kecil, 2 angkutan logistik kecil, dan 2 unit angkutan besar akan dibawa ke Semarang. Untuk KM. Kirana III membawa 5 KK kecil dan 7 kendaraan besar.

Hendrik menduga keberangkatan penumpang untuk mudik lebih awal pada hari itu baik yang ke Surabaya maupun Semarang karena menghindari larangan mudik pada Mei jelang Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriah mendatang.

“Jadi untuk saat ini rata-rata calon penumpang itu menghindari larangan mudik untuk tanggal 6-17 Mei,” sebutnya.

Sementara itu Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Kabupaten Kotawaringin Timur Susilo mengaku kaget dengan larangan truk logistik keluar dan masuk pelabuhan. Apalagi aturan ini sampai membuat PT Dharma Lautan Utama menyetop pelayaran ke Sampit.

”Ini bahaya bagi perekonomian Sampit. Sebagian kebutuhan pokok di Sampit masih ditopang dari Jawa. Distribusinya banyak dikirim melalui Darma Lautan. Kalau sampai tidak ada solusi, bahaya ini,” ujar Susilo.

Seharusnya truk logistik tetap diberikan akses ke Pelabuhan Sampit melalui jalan di pinggiran Kota Sampit. Dishub bisa memfasilitasi ini.

”Sedangkan truk pengangkut sawit dan CPO tetap wajib lewat lingkar kota. Saya setuju truk dilarang masuk kota, tapi jangan dipukul rata, harus dipilah-pilah,” ujarnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *