Perempatan Jalan Tjilik Riwut-Wengga-Hasan Mansur termasuk salah satu jalur padat pengendara dan rawan terjadinya kecelakaan. Hal itu menggerakkan hati seorang pria paruh baya turun langsung membantu mengatur lalu lintas.
HENY-radarsampit.com, Sampit
Suara peluit terdengar berkali-kali di perempatan Jalan Tjilik Riwut-Wengga-Hasan Mansur. Sumber suara itu berasal dari sosok laki-laki paruh baya mengenakan rompi hijau neon. Setiap hari dia sibuk mondar-mandir mengatur padatnya lalu lintas di titik tersebut.
Pria itu bukan anggota polisi. Bukan pula juru parkir. Namanya Heriyanto, ayah yang kini hidup bersama empat anaknya, setelah lima tahun sang istri meninggal dunia. Di usianya yang menginjak 55 tahun, Heriyanto hidup bersama putranya di Jalan Wengga Agung 11. Dia juga memiliki 10 cucu dari anak-anaknya.
Setiap pukul 12.00-15.00 WIB, Heriyanto berangkat menggunakan motor matik hijau menuju tempat tugasnya; perempatan Jalan Tjilik Riwut-Wengga-Hasan Mansur. Salah satu titik ruas jalan yang dikenal rawan kecelakaan. Setiap hari diperkirakan ada ribuan pengendara motor, mobil, truk, dan angkutan berat lainnya melintas.
Ruas tersebut menjadi akses utama menuju arah Kota Palangka Raya dan favorit masyarakat Sampit menikmati waktu sore hingga malam menuju Terowongon Nur Mentaya.
Sejak diresmikan Bupati Kotim Halikinnor pada 10 Desember 2022 lalu, jalanan di titik itu semakin padat dilintasi pengendara. Sebagian besar masyarakat Sampit yang ingin menuju Terowongan Nur Mentaya untuk sekadar nongkrong sambil menikmati jajanan kuliner yang dijual pedagang kaki lima di pinggiran Jalan Tjilik Riwut, kawasan Terowongan Nur Mentaya.
Semakin ramainya arus lalu lintas di titik itu, ditambah belum tersedianya traffic light di perempatan tersebut, membuat Heriyanto tergerak hati membantu pengendara yang lewat agar dapat melintas dengan aman dan lancar.
Semua itu dia lakukan atas kesadaran sendiri. Tak ada paksaan. Tak ada pula yang menyuruh. Setiap siang, ketika matahari berada di ubun-ubun, Heriyanto memilih mengatur lalu lintas. Bahkan, dalam kondisi sedang berpuasa, ia tetap menggerakkan kakinya membantu pengendara yang melewati jalurnya ”bertugas”.
”Kalau siang memang panasnya poll (full, Red). Apalagi kalau tidak ada semilir angin yang lewat, panasnya semakin terasa. Beberapa hari lalu sampai mau pingsan karena tidak kuat berdiri di atas terik matahari yang menyengat. Saya juga sedang berpuasa,” ujar Heriyanto, Senin (3/4) siang.
Meski cuaca panas, Heriyanto tetap menunaikan puasa yang wajib dilaksanakan bagi umat muslim setiap bulan suci Ramadan itu. Meski sempat hampir pingsan, dia tak kapok datang lagi membantu mengatur arus lalu lintas pengendara.
Saking panasnya cuaca tengah hari itu, Heriyanto sampai mengenakan topi, helm, sarung tangan biru, sepatu dan rompi andalan kebanggaannya yang bertuliskan ”Lokal Hero” pada dada kanan. Di dada kiri tertulis ”Mitra Polres Kotim” dan pada bagian punggung belakang bertuliskan ”Ayo tertib berlalu lintas”.
Rompi itu ia peroleh dari Polres Kotim atas penghargaan karena telah ikhlas membantu mengatur lalu lintas. ”Rompi ini diberi Polres Kotim saat HUT ke-67 tahun. Saya mendapat penghargaan local hero. Dulu saya ditanya, apa niatan bapak melakukan ini? Saya katakan, saya ikhlas membantu. Niatnya untuk ibadah,” kata Heriyanto yang sedikit menahan intonasi suaranya dengan mata agak berkaca-kaca yang segera dia usap sebelum air mata menetes ke pipinya.
Banyak masyarakat yang menilai tindakannya hanya untuk meminta-minta uang mengharapkan belas kasih. ”Banyak orang yang menilai saya mengatur lalu lintas dikira minta uang. Saya sama sekali tidak mengharapkan itu. Tetapi, kalau ada pengendara yang lewat memberi uang, saya katakan alhamdulillah dan saya tidak menolaknya, tapi bukan berarti saya meminta-minta,” tegasnya.








