SAMPIT – Persoalan banjir di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) perlu menjadi perhatian serius Pemkab Kotim. Setiap hujan deras mengguyur Kota Sampit dalam durasi lama, beberapa permukiman warga di wilayah Kecamatan Ketapang dan Baamang masih kerap kebanjiran. Diduga masih banyaknya drainase tak lancar, dan kurangnya daerah serapan jadi penyebab.
Pantauan Radar Sampit, hujan deras yang mengguyur Kota Sampit sudah terjadi selama tiga hari terakhir, hingga Jumat (12/11) malam kemarin. Air pun berlimpah di saluran drainase dari arah barat turun ke timur melewati ruas-ruas Jalan Anggur, Pinang, Kopi Selatan, Suprapto Selatan, Anang Santawi, DI Panjaitan hingga bermuara ke arah Sungai Mentaya. Sejumlah pengeringan (drainase) di wilayah itu meluap hingga ke jalan dan masih bertahan sejak kemarin.
“Drainase di Jalan HM Arsyad mulai perempatan Jalan Pelita menuju arah Bundaran KB perlu diperhatikan. Posisi jalan tinggi, sementara drainase dangkal, bahkan pembatas jalan pernah dibongkar warga karena tersumbat, air tidak mengalir. Sebelumnya pernah dikeruk dari belakang SPBU sampai pembina, selain itu belum,” ujar Yanto, salah satu warga Jalan Anggur III, kemarin.
Dikatakannya, banjir tahun ini merupakan banjir terparah. Sebelumnya, hujan deras tak pernah menggenangi hingga ke jalan area permukiman warga.
“Jalan yang enggak pernah tenggelam, tahun ini tenggelam. Ini berarti ada yang enggak beres dengan drainase,” cetusnya. Ketinggian banjir pun ada yang hingga mencapai paha orang dewasa. Kejadian itu terjadi di sekitar Jalan Suprapto Selatan, Anang Santawi dan DI Panjaitan sekitar Pasar Sajumput.
“Jalan ini memang tiap tahun jadi langganan banjir, tetapi tidak sampai separah ini. Ketinggian banjir bervariasi, ada yang sampai paha orang dewasa. Puncaknya itu Kamis (11/11) malam sampai pagi tadi (red: kemarin) air masih menggenang. Mulai berangsur surut siang hari,” paparnya.
Kondisi ini juga menjadi sorotan Anggota DPRD Kotim Handoyo J Wibowo, ia menilai sejumlah drainase di Kota Sampit dinilai tidak mampu menampung debit air hujan yang begitu deras belakangan ini. Maka dari itu diharapkan Pemkab bersama dengan masyarakat menggalakkan kegiatan pembersihan drainase secara total.
Ditegaskannya, tidak cukup hanya menyerahkan ke pemerintah tetapi juga harus ditekankan pentingnya gotong royong lantaran ada drainase yang buntu.
“Pada dasarnya kemampuan drainase untuk mengalirkan air ke sungai pembuangan tidak maksimal. Hal ini dikarenakan tidak sedikit drainase yang ada sudah tidak dilakukan normalisasi dan juga tertutup oleh sampah-sampah bangunan,”ujarnya, kemarin.
Disebutkannya, di wilayah Kecamatan Baamang pun banyak pemukiman yang terendam seperti halnya di Jalan Cristophel Mihing, Walter Condrad. Kebanyakan perkumikan warga terendam banjir setelah diguyur hujan cukup lama.
“Memang drainase mereka sudah ada tapi kemampuan untuk mengalirkan debit air hujan yang deras sampai 7 jam di kemarin itu sangatkah tidak normal, “tukasnya.
Handoyo kembali menyarankan untuk selanjutnya pemerintah melakukan pengerukan bear-besaran di sungai pengeriangan sepeti di Sungai Baamang dan Sungai Mentawa. Sungai di Suka Bumi juga harus dilakukan pengerukan untuk bisa menampung pembuangan air yang saat ini tumpah di pemukiman.
“Solusinya harus dilakukan pengerukan semua sungai-sungai induk oleh pemerintah daerah. Sementara untuk drainase di area permukiman bisa disiasati dengan kegiatan gotong royong rutin yang dipimpin masing-masing RT. Menghadapi situasi begini tidak mungkin hanya menyerahkan ke pemerintah, tetapi juga peran aktif kita sebagai warga juga paling penting,”imbuhnya.(hgn/ang)








