Kasus Persetubuhan Anak Tinggi, Orang Tua Harus Waspada

kasus
Ilustrasi. (dok/Jawa Pos)

NANGA BULIK – Jumlah perkara persetubuhan anak di Kabupaten Lamandau masih cukup tinggi. Berdasarkan data Pemkab Lamandau, tahun lalu ada 11 kasus persetubuhan terhadap anak di bawah umur. Untuk tahun ini, sampai Oktober tercatat sudah terjadi delapan kasus.

Hal itu dinilai sangat memprihatinkan, mengingat korbannya sebagian besar pelajar. Tak sedikit di antara mereka kemudian putus sekolah.

Bacaan Lainnya

Kapolres Lamandau AKBP Arif Budi Purnomo mengimbau para remaja, khususnya perempuan, untuk menghindari pergaulan bebas. Tidak mudah terbujuk dengan rayuan pacar maupun orang dekat lainnya, seperti keluarga dan tetangga.

”Jika mengalami pelecehan seksual atau kekerasan, jangan takut untuk lapor ke orang tua dan polisi, karena hak-hak anak dilindungi undang-undang,” tuturnya.

Dia mencontohkan, beberapa waktu lalu ada seorang remaja putri yang melakukan percobaan bunuh diri dengan terjun ke Sungai Lamandau. Hal itu dilakukan setelah dia mengetahui pacarnya suami orang dan tidak bertanggung jawab atas kehamilannya.

Baca Juga :  BEJAT!!! Tergiur Kecantikan Korban, Dukun Cabul Nyaris Perkosa Calon Jodoh Anaknya

Bulan lalu, jajaran Satreskrim Polres Lamandau berhasil menangkap pria hidung belang yang sempat melarikan diri tersebut di sebuah losmen di Kota Nanga Bulik.

”Kejadian berawal pada Minggu, 20 Desember 2020 sekitar jam 19.30 WIB, pelaku menghubungi korban untuk mendatanginya di kos. Setelah korban tiba, pelaku mengajak korban masuk kamar untuk bersetubuh,” katanya.

Awalnya korban menolak. Namun, pelaku terus membujuknya, sehingga korban bersedia bersetubuh dengannya. Perbuatan itu dilakukan beberapa kali, sehingga mengakibatkan korban hamil. Setelah mengetahui korban hamil, pelaku tidak mau bertanggung jawab dan kabur.

”Korban melaporkan kejadian tersebut ke SPKT Polres Lamandau untuk proses hukum lebih lanjut. Setelah menerima informasi terkait keberadaan pelaku, anggota unit lidik melakukan penangkapan terhadap pelaku pada 6 September lalu,” jelasnya.

Arif mengharapkan orang tua dan guru di sekolah bisa lebih ketat lagi memperhatikan anak-anaknya. ”Jangan terlalu bebas, karena hampir sebagian besar korbannya adalah anak usia sekolah, antara SMP hingga SMA,” pungkasnya. (mex/sla/ign)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *