Wakil Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Irawati meminta agar ketua RT, lurah, kades agar lebih peduli pada masyarakat yang tidak mampu secara fisik dan materi. Apalagi di Kotim masih banyak yang belum masuk dalam program bantuan pemerintah.
=====
”Saya meminta ketua RT, lurah untuk lebih peduli memperhatikan dan mendata warganya yang kurang mampu secara fisik dan secara perekonomiannya. Karena, RT dan lurahlah yang lebih tahun kondisi warganya. Jangan sampai warga yang seharusnya layak dibantu, malah tidak menerima program bantuan apapun dari pemerintah,” kata Irawati, saat memberikan bantuan paket sembako untuk warga yang tidak mampu di Kota Sampit, Kamis (7/10).
Irawati mengaku prihatin melihat kondisi warga yang tidak mampu dari segi kesehatan dan perekonomiannya. Dia mengharapkan bantuan dari program pemerintah, baik program keluarga harapan (PKH), bantuan pangan non tunai (BPNT), maupun bantuan program lainnya dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
”Kalau terkendala administrasi karena KTP-nya tidak sesuai dengan domisilinya, bagaimana caranya ditolonglah ketua RT atau lurahnya membantu menguruskan. Mana perlu kalau ada yang belum punya BPJS, dibantu uruskan. Kalau bukan kita semua yang peduli membantu, siapa lagi yang mau peduli,” ujarnya.
Pantauan Radar Sampit, Wabup bersama Komunitas Peduli Yatim Duafa menyerahkan bantuan sebanyak 20 paket bahan pokok serta uang tunai kepada sejumlah masyarakat yang kurang mampu di wilayah Kota Sampit. Kegiatan sosial itu rutin dilakukan Irawati setiap Jumat.
”Saya ada kegiatan Jumatnya, makanya penyerahan bantuan saya majukan di Kamis. Karena, saya ingin melihat langsung kondisi warga yang kondisi perekonomiannya sangat jauh dari kata sejahtera,” ujarnya.
Dari sejumlah warga yang dikunjungi, sebagian besar warga dalam keadaan tidak mampu secara kesehatan, ada yang lumpuh, lanjut usia, tidak memiliki keluarga, dan semua kondisi rumahnya sangat memprihatinkan.
Seperti yang dialami Riska (50), warga Kelurahan Baamang Hulu. Janda yang memiliki lima anak ini harus menghidupi anak-anaknya. Bekerja serabutan sebagai buruh cuci, pembantu rumah tangga, dan lain-lain.
”Anak saya tiga sudah menikah pisah dengan saya. Sekarang saya tinggal bertiga dengan anak saya. Satunya masih umur 6 tahun dan satunya berumur 5 tahun,” ujar Riska.
Riska menghidupi keluarganya seorang diri dalam kondisi sakit-sakitan. ”Kadang saya menjualkan makanan orang. Kadang kerja, kadang enggak. Karena sakit-sakitan, tekanan darah tinggi bisa kambuh-kambuhan,” ucap janda yang menyewa rumah seharga Rp 300 ribu per bulan ini.
Ada pula warga Kelurahan MB Hulu yang sudah sangat renta, Karman (88). Dia hanya bisa berbaring di kasur dan hidup menua bersama istri. Istrinya tak bisa berjalan, sehingga perlu bantuan kursi roda untuk beraktivitas.
”Saya tinggal bertiga dengan anak saya usianya sudah 40 tahun dari kecil mengalami polio dan tidak bisa berjalan hanya berbaring saja di rumah,” ucap Karman.
Mereka hidup bertiga dalam keadaan tidak berdaya, sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, mereka dibantu cucu. ”Saya punya anak perempuan usianya sudah 64 tahun tinggal di Jawa, kebutuhan sehari-hari dibantu cucu,” ujarnya.
Ada pula Wahyudi (36) yang tinggal di Kelurahan Baamang Hulu. Pria ini masih terbilang muda, namun karena insiden kecelakaan kerja yang menimpanya mengakibatkannya lumpuh dan hanya bisa terbaring di atas kasur. Dia ditemani istri dan dua anak yang setia menemani hidupnya.
”Dulu kerja jadi tukang bangunan kecelakaan kena tulang belakang, karena tidak ada biaya untuk berobat, lama tidak ditangani membuat saya seperti ini,” ujarnya.








