Kisah Gledekan Bhabinkamtibmas Madurejo, Pangkalan Bun

gledekan polres kobar
BANTU WARGA: Aipda Bambang Sugiarto, Bhabinkamtibmas Kelurahan Madurejo saat membantu warganya yang akan pindahan, Senin (3/4). (ISTIMEWA/RADAR SAMPIT)

Nasihat sang ayah semasa hidup terpacak dalam sanubari Aipda Bambang Sugiarto. Menjadi polisi harus menjadi tulodo (teladan) bagi masyarakat migunani tumraping liyan, yang artinya sekecil apa pun tindakan harus bermanfaat bagi orang lain (masyarakat).

KOKO SULISTYO-radarsampit.com, Pangkalan Bun

Bacaan Lainnya
Gowes

Memasuki hari ke-12 bulan suci Ramadan 1444 Hijriah, sinar mentari memancar begitu terik di langit Kotawaringin Barat. Meski berpuasa, hal itu tidak menyurutkan semangat Aipda Bambang Sugiarto, Bhabinkamtibmas Kelurahan Madurejo membantu warganya.

Berbekal Daihatsu Zebra tahun 2004, Bhabinkamtibmas yang memperoleh beberapa penghargaan dari Polres Kotawaringin Barat atas kiprah melayani masyarakat itu, menuju salah satu rumah warga di Perum Samari, Jalan Samari II, untuk membantu mengangkut barang-barang rumah tangga.

Kasur, lemari, dan perabotan rumah lainnya, ia gotong bersama pemilik rumah. Keringat mengucur deras dari tubuh, tak menyurutkan semangat untuk melayani warganya hingga tuntas.

Daihatsu Zebra itulah yang disebutnya sebagai gledekan atau gerobak yang ia gunakan sebagai sarana untuk melayani dan membantu masyarakat yang kesulitan mendapatkan angkutan barang.

Baca Juga :  NAH LHO!!! Pengesahan Raperda Dinilai Cacat Hukum gara-gara Sejumlah Legislator Kotim Bolos Paripurna

Gledekan itu berasal dari bahasa kami di Bojonegoro, yang artinya gerobak, sebagai bentuk pengabdian dan layanan kepada masyarakat. Sekaligus kami beri nama program tersebut Gledekan Layang Tastis atau Layanan Angkutan Terbatas dan Gratis,” ujarnya.

Ide Gledekan Layang Tastis muncul beberapa tahun silam. Saat itu ia kerap melihat warganya kesulitan mendapatkan kendaraan untuk keperluan pengangkutan barang-barang. Terutama untuk komoditas pertanian berupa sayur-mayur dari kebun ke pasar.

Kebetulan saat itu ia memiliki satu unit roda empat jenis pikap Toyota Kijang Super tahun 1990. Berbekal itu, ia terpanggil membantu masyarakat sekitar.

Seiring berjalannya waktu, kegiatan tersebut ternyata berdampak positif bagi masyarakat. Selain itu, ia merasa nyaman dengan rutinitasnya tersebut.

Namun, dalam perjalanannya, banyak kendala yang dihadapi. Terutama kondisi armadanya yang terbilang sudah uzur, sehingga dalam pelayanan terkadang tidak maksimal. Tak jarang saat mengangkut hasil bumi masyarakat ke pasar, ia dan warga harus mendorong mobil itu karena mogok.



Pos terkait