Mengunjungi Riam Jarawi di Katingan yang Memiliki Cerita Budaya

Perjalanan 7 Jam, Ada Kisah Tambun dan Bungai

boks katingan 1
SANTAI: Sekelompok pengunjung menikmati alam di sekitar Riam Jarawi. (Istimewa/Radar Sampit)

Riam Jarawi terletak di aliran Sungai Baraoi dan bermuara di Sungai Samba anak Sungai Katingan. Nama riam ini berasal dari Bahasa Dohoi Dayak Ut Danum, yang artinya Bidawang atau Labi-Labi dalam bahasa Indonesia.

Hari Sosilo, Katingan | radarsampit.com

Bacaan Lainnya

PANAS terik matahari pagi tidak menyurutkan semangat sekelompok wisatawan lokal, menempuh perjalanan hingga 7, 5 jam lamanya dari Kota Kasongan menuju ke Riam Jarawi di Desa Tumbang Tangoi, Kecamatan Petak Malai Kabupaten Katingan.

Untuk sampai ke riam tersebut, mereka pun harus beristirahat untuk satu malam terlebih dulu dengan memasang tenda perkemahan di pinggir sungai dengan air yang berarus deras. Tidak mudah supaya bisa menampakan kaki di riam yang punya mitos dan cerita tersendiri itu.

“Iya rombongan kami berangkat dari Rabu pagi (14/6) dan sampai ke Dusun Jamparan saja sudah sore hari dan berhenti sejenak menginap pada malam hari,” ujar salah satu anggota rombongan, Hari.

 

insert boks katinga
Dua lubang di batu, yang dipercaya bekas telapak kaki Tambun

Di hari berikutnya, rombongan kembali ke rencana awal, untuk menjajaki riam Jerawi. Dari tempat perkemahan hingga ke lokasi memakan waktu satu jam dengan menggunakan kendaraan roda empat double cabin.

Kawasan Riam Jerawi ini berada di bawah bukit yang cukup terjal. Sekitar tujuh ratus meter untuk turun ke bawah menyusuri riam yang menjadi salah satu lokasi wisata unggulan di kabupaten yang berjuluk Bumi Penyang Hinje Simpei tersebut.
Ketika sudah sampai di sana, mata pun dibuat takjub karena keindahan dan pesona dari riam yang dipenuhi bebatuan, serta serunya suara gempuran air yang sangat deras.

Adapun cerita mengenai riam ini, menurut dari catatan Tabel Dalinsari, zaman dahulu, ada seorang pria Dayak bernama Tambun yang gagah perkasa dan sakti mandraguna yang pergi berburu mencari hati binatang seperti babi, rusa, kancil dan binatang lainnya.
Hati binatang itu untuk istrinya yang sedang mengidam dan bernama Bungai Bahinoi yang memiliki rambut panjang dan berkuncir

Tambun berburu ke hutan melalui Bukit Raya, Bukit Bangapan, Bukit Mohod, Datah Hotap dan Sepan Kasuhui sampai petang hari. Namun, tidak menemukan binatang atau satwa yang dicari. Tambun pun menemukan sungai yang memiliki aliran air yang deras dan membuat sapan atau lanting dari Kayu Gahung.

Selanjutnya melakukan perjalanan  dari sungai tersebut dan menemukan Riam Pajajan Hicop. Namun, sampan yang digunakan itu hancur dan membuatnya terbawa arus sungai.

Kemudian lanjut catatan Tabel Dalinsari, waktu itu sudah larut malam dan Tambun berhenti di Sungai Ahoi yang memiliki arti dari bahasa Dayak Ut Danum Menende Kahaka atau berhenti karena lelah.

Keesokan paginya, Tambun melakukan perjalanan ke Sungai Baraoi dan di tengah perjalanan menemukan riam yang cukup besar, serta sampan yang digunakannya kembali hancur dan terbawa arus. Setelah itu ia meminta tolong kepada siapa saja yang ada disitu.

Saat itu, ada satu binatang yang muncul bernama Bere dan berukuran cukup besar dan Tambun bersumpah untuk tidak membunuh serta memakan binatang ini hingga anak cucuknya nanti.

“Oi Jorawi eam kani aku ngonin iko akan ukun panguman anak osuk ku nyiring jaham,” cetus Tambun dalam catatan dari cerita mitos itu.
Namun, lantaran Tambun mengingat istrinya Bungai yang sedang mengidam ingin makan hati binatang, dirinya malah melanggar janji hingga akhirnya membunuh bere atau Jorawi serta mengambil hatinya.

Dengan sekejap setelah itu, petir menyala dan langit berubah gelap, Jorawi atau Jarawi berupa menjadi batu yang besar dan menutupi Sungai Baraoi sehingga Tambun menghilang secara gaib. Sampai saat ini riam ini terkenal dengan riam Jarawi atau Kiham Jorawi, dan dipercaya bekas telapak kaki Tambun masih ada di sebuah batu besar di pinggir di riam tersebut. (sos/gus) 

Pos terkait