Perlu Biaya Berobat, Oknum Sopir di Sampit Ini Nekat Gelapkan CPO

sidang
Ilustrasi persidangan/Jawa Pos

SAMPIT, radarsampit.com – Yulianus Antang terancam hukuman 1.5 tahun penjara, setelah dia dituntut hukuman oleh jaksa di Kejaksaan Negeri Kotawaringin Timur (Kotim).

Pria bekerja sebagai sopir ini, didakwa melakukan penggelapan Crude Palm Oil (CPO) yang diangkutnya. Ia beralasan lantaran anaknya sedang sakit dan memerlukan biaya berobat.

Bacaan Lainnya

“Menyatakan terdakwa  telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana penggelapan disebabkan karena ada hubungan kerja. Sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 374 KUHP.Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana penjara selama 1 tahun dan 6 bulan  dengan dikurangkan lamanya terdakwa ditahan dan dengan perintah terdakwa tetap ditahan,” ujar Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rahmi Amalia dalam persidangan.

Diungkapkannya, awal kejadian dari sebuah bengkel las di Jalan Moh Hatta Kecamatan Ketapang Kelurahan Mentawa Baru.

Terdakwa merupakan karyawan CVMLB (Mitra Lintas Borneo) sejak tahun 2019 sebagai sopir angkut CPO. Ia mendapatkan gaji atau upah setiap bulannya kurang lebih sejumlah Rp.3.510.000.

Baca Juga :  Mayat di Kebun Sawit Sudah Meninggal Sepekan Lebih

Saat itu terdakwa  di Gudang CV MLB sedang mengisi solar truk tangki yang disopirinya.

Selanjutnya Jefri, atasannya memerintahkan terdakwa untuk melakukan pengangkutan CPO di PT  KDP di Desa Tumbang Samba pada hari Jumat Tanggal 30 Juni 2023, untuk dibawa dan dibongkar CPO tersebut di Balking PT SDS, kawasan Pelabuhan Bagendang.

Kemudian lanjut PJU, terdakwa  sudah berangkat menuju PT KDP di Desa Tumbang Samba, terpantau oleh Jefri  melalui GPS bahwa posisi terdakwa  standby di Balking PT SDS Bagendang untuk menunggu antrean bongkar.

Namun, berhubung di Balking PT SDS untuk hari Sabtu  jam kerjanya hanya sampai pukul  12.00 wib,  sehingga para sopir truk CPO akan menunggu antrean dengan bermalam di Balking PT SDS hingga hari Senin.

Kemudian hari Minggu tanggal 02 Juli 2023,  sekira Pukul 08.00 Wib,  saat dicek sinyal GPS di truk yang disopiri terdakwa sudah tidak menyala lagi.

Saat itu Jefri berfikir mungkin aki truk dilepas terdakwa  agar tidak drop. Namun, saat Jefri menghubungi terdakwa,  ponsel terdakwa tidak aktif.



Pos terkait