Sampai Begini Stresnya Diteror Tagihan Pinjaman Online

Pinjam Rp 1 Juta, Ditagih Rp 20 Juta

Ilustrasi. (M Faisal/Radar Sampit)

SAMPIT – Teror pinjaman online menimpa sejumlah warga di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Bahkan, korban sampai stres karena ditagih terus menerus secara tidak wajar. Nominal tagihan pun di luar akal. Awalnya hanya pinjam Rp 1 juta, membengkak menjadi Rp 20 juta.

Hal tersebut dialami seorang pegawai di lingkup Pemkab Kotim, DA (30). Teror tersebut menimpanya berbulan-bulan sampai hidupnya tak karuan. Hampir setiap hari dia dihubungi operator pinjol setelah dia terjebak memanfaatkan layanan pinjaman tersebut sebesar Rp 1 juta melalui aplikasi.

Bacaan Lainnya

”Awalnya saya dapat informasi teman, kalau perlu dana cepat, bisa pinjaman online. Saat itulah saya mencoba dan memang betul. Saya pinjam sekitar Rp 1 jutaan awalnya. Sejak saat itulah saya masuk dalam jebakan mereka,” ujarnya, Selasa (19/10).

DA mengaku tak seorang diri masuk dalam jebakan pinjol. Ada juga rekan sekantornya mengalami hal serupa. Keduanya sama-sama stres menghadapi teror pinjol saat itu.

”Padahal sudah kami angsur. Ada yang setiap hari, ada juga per tiga hari atau per minggu. Misalnya dalam per hari kami setor Rp 100 ribu,” jelasnya.

Meski sudah mengasur pinjaman, DA merasa ada yang tidak beres. Setiap hari dia dikonfirmasi operator pinjol. Bahkan, utang pinjamannya terus bertambah. ”Saya heran, padahal sudah bayar, tetapi kok utang kami terus bertambah. Ternyata pinjaman itu berbunga terus-menerus,” ungkapnya.

Menurut DA, utangnya terhadap pinjol tersebut akhirnya mencapai Rp 20 juta, akumulasi bunga selama berbulan-bulan yang tidak dibayarnya. Dia memperkirakan saat ini nilai utangnya bisa mencapai Rp 50 juta.

Tak hanya ditagih secara langsung, orang-orang terdekatnya pun mendapat pesan dari operator pinjol tersebut. ”Keluarga, sahabat, bahkan orang-orang kantor saya dikirimi pesan WhatsApp bahwa saya penipu, tidak mau bayar utang. Bahkan, foto-foto saya juga dikirim. Saya sampai stres luar biasa,” ujarnya.

DA mengaku tidak tahu operator pinjol tersebut bisa mendapatkan nomor kontak keluarga dan rekan kerjanya. Saat melakukan pinjaman itu, dia hanya memberikan fotokopi KTP, kartu keluarga, kartu BPJS, dan nomor rekening bank. Dia menduga ponselnya diretas.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *