NANGA BULIK, radarsampit.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamandau melalui Dinas Pariwisata menggelar ritual adat Dayak Tomun, Padah Pamit Babukung, pada Rabu (6/11/2025).
Ritual ini merupakan bagian dari tradisi adat sebelum pelaksanaan Festival Babukung yang dijadwalkan berlangsung pada 8 November mendatang.
Bupati Lamandau Rizky Aditya Putra mengatakan, ritual Padah Pamit dilakukan sebagai bentuk permohonan izin dan penghormatan kepada leluhur agar pelaksanaan festival berjalan lancar.
“Ritual ini bertujuan untuk berpamitan kepada leluhur sebelum festival Babukung dimulai. Harapannya, kegiatan budaya ini dapat berjalan lancar tanpa kendala,” ujar Rizky.
Festival Babukung merupakan bentuk pelestarian budaya masyarakat Hindu Kaharingan. Secara tradisional, Babukung adalah ritual adat kematian yang dilakukan untuk memberikan penghiburan dan bantuan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Meski awalnya hanya boleh dilakukan saat ada kematian, sejak tahun 2014 Pemkab Lamandau menjadikannya sebagai festival tahunan guna memperkenalkan budaya lokal ke tingkat yang lebih luas.
Dalam tradisi Babukung, warga datang mengenakan topeng Bukung sambil membawa bantuan bagi keluarga berduka. Musik pengiringnya disebut Batipa, yang menjadi ciri khas dalam upacara tersebut.
Karena pelaksanaan festival dilakukan di luar konteks kematian, para Demang Adat memberikan kamuh (denda adat) kepada panitia berupa lima pulau (guci/tempayan) sebagai syarat adat penyelenggaraan kegiatan.
Kepala Dinas Pariwisata Lamandau, Hendroplin, menjelaskan bahwa ritual Padah Pamit dilaksanakan agar pelaksanaan festival terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
“Supaya tidak ada musibah selama pelaksanaan, kami melaksanakan ritual adat Padah Pamit untuk meminta izin kepada leluhur agar seluruh peserta diberikan keselamatan dan kelancaran,” ujarnya.
Sementara itu, Damang Kecamatan Bulik, Darong, menegaskan pentingnya kesepakatan bersama para tokoh adat dalam pelaksanaan festival ini.
“Dalam festival Babukung tidak ada kematian, tetapi akan ada ribuan orang mengenakan topeng Bukung dan menari bersama demi pelestarian adat. Karena itu, ritual ini penting agar leluhur merestui niat baik kita,” jelasnya.







