SAMPIT, radarsampit.com – Desa Sei Ijum Raya, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, menjadi salah satu sentra perikanan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), yang kemudian dinamakan Sentra Perikanan Terpadu Sijura. Dijadikannya Sijura sebagai sentra perikanan terpadu lantaran di desa itu terdapat jenis usaha perikanan yang cukup lengkap, meliputi usaha melalui penangkapan ikan, budidaya perikanan, dan usaha pengolahan ikan.
”Uniknya, di Desa Sei Ijum, bapak-bapaknya menangkap ikan, sedangkan para istri-istrinya melakukan usaha budidaya perikanan hingga mengolah hasil perikanan menjadi ikan asin, kerupuk ikan yang bisa menambah penghasilan warga desa. Makanya kami jadikan Sei Ijum Raya sebagian sentra perikanan di Kotim,” ujar (Jabatan Fungsional) Pengelola Kesehatan Ikan Ahli Muda Fahrul Jainal Ilmi Fahrul Jainal Ilmi.
Penangkapan ikan yang dilakukan warga Desa Sei Ijum Raya yang umumnya dilakukan oleh kaum lelaki, merupakan kegiatan menangkap ikan menggunakan perahu atau kapal di perairan sungai dan laut.
Sementara kaum wanita warga Desa Sei Ijum melakukan pembudidayaan ikan pada kolam air tawar, berupa budidaya ikan patin. Di samping itu, juga melakukan usaha pengolahan hasil ikan sebagai aktivitas bisnis perikanan sampai menjadi produk akhir untuk konsumsi manusia. Tujuannya, menaikkan nilai tambah produk perikanan.
Besarnya potensi perikanan di Desa Sei Ijum memberi manfaat yang sangat besar. Hal tersebut dapat dimanfaatkan melalui usaha perikanan yang optimal.
”Usaha yang dilakukan masyarakat Desa Sei Ijum dari hasil penjualan ikan tangkapan, hasil penjualan ikan dari panen di kolam dan penjualan hasil olahan ikan berupa kerupuk itu bisa menunjang kebutuhan ekonomi keluarga yang ada di desa itu,” tuturnya.
Fahrul mengungkapkan, dalam upaya menghemat biaya pembelian pakan, para pembudidaya perikanan di desa tersebut menggunakan hasil tangkapan ikan dari nelayan yang tidak layak jual (ikan rucah), yang kemudian dijadikan bahan baku untuk pembuatan pakan ikan yang dibudidayakan di kolam.
”Dengan mahalnya pakan ikan untuk kegiatan budidaya, mereka memanfaatkan ikan tangkapan nelayan yang tidak terpakai atau yang tidak layak dijual itu untuk bahan pengolahan pakan ikan di kolam. Upaya itu dapat menghemat biaya pembelian pakan untuk kegiatan budidaya ikan, karena kita tahu sekarang harga pakan ikan di pasaran cukup mahal sekali dan itu menjadi keluhan para pembudidaya ikan khususnya di wilayah Kotim,” katanya.
Karena itu, salah satu bentuk pemerintah daerah melalui Dinas Perikanan setempat menekan pengeluaran untuk modal pembelian pakan para pembudidaya di Kotim adalah dengan membangun pabrik pakan di Sei Ijum Raya. ”Karena potensi bahan baku pembuatan pakan sangat mudah didapat di Sei Ijum, seperti ikan grabak atau ikan rucah, juga dedak hasil pertanian dari Desa Lampuyang,” terangnya.
Lebih lanjut dikatakan, melalui program Lewu Lauk yang dicanangkan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kalteng, diharapkan bisa meningkatkan produksi perikanan khususnya di wilayah Kotim. ”Ada dua lokasi yg kita programkan melalui program Lewu Lauk, yaitu Kelurahan Pasir Putih dan Desa Sei Ijum Raya,” ucapnya.
Baru-baru tadi, total empat kelompok pembudidaya ikan yang ada di Kelurahan Pasir Putih dan Desa Sei Ijum Raya mendapatkan bantuan berupa bibit Patin dari DKP Provinsi Kalteng. Total 80 ribu bibit patin dan 6 ton pakan ikan yang diberikan.
”Ada empat kelompok penerima bantuan melalui program Lewu Lauk. Di Kelurahan Pasir Putih satu kelompok, Desa Sei Ijum Raya tiga kelompok. Masing-masing kelompok menerima 20 ribu bibit ikan patin dan pakan ikan sebanyak 1,5 ton untuk masing-masing kelompok,” katanya. (yn/ign)








