Tarik Ambulans Meski Berbaju Hazmat

Kisah Tenaga Kesehatan di Pelosok Desa

kisah tenaga kesehatan pelosok desa
TERJEBAK LUMPUR: Tenaga Kesehatan Puskesmas Sambi saat menarik mobil ambulan yang terjebak lumpur di Desa Penyombaan, Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kobar, Senin (12/7) pukul 17.30 WIB. (ISTIMEWA/RADAR PANGKALAN BUN)

Penanganan kasus Covid-19 di Kabupaten Kotawaringin Barat bukan hanya masif dilakukan di Kota Pangkalan Bun, tetapi juga di pelosok-pelosok desa, salah satunya di desa pelosok Kecamatan Arut Utara.

KOKO SULISTYO, Pangkalan Bun

Bacaan Lainnya

Rasa tanggung jawab dalam menjalankan tugas sebagai tenaga kesehatan, ditunjukan oleh sejumlah nakes yang bertugas di Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), bukan hanya tantangan saat memberikan pelayanan terhadap terkonfirmasi positif Covid-19, tetapi tantangan buruknya infrastruktur harus mereka hadapi saat melakukan tracking ke pelosok desa.

Demi menjalankan misi kemanusiaan, mereka rela berjibaku dengan jalanan berlumpur, mobil ambulan yang mengantar mereka menuju desa sasaran tracking harus amblas, dalamnya lumpur membuat ban ambulan hanya bisa berputar ditempat seolah enggan untuk melaju.

Jiwa tangguh dalam menjalankan tugas ditunjukan oleh sejumlah nakes yang terdiri dari 5 tenaga kesehatan pria dan 1 tenaga kesehatan perempuan, termasuk Kepala Desa Penyombaan, Murni yang menjadi tujuan mereka.

Mengetahui ban ambulans yang mereka tumpangi terjebak dalam lumpur, dengan masih berpakaian hazmat mereka turun dan menarik mobil dengan seutas tali. Meski berat namun mereka menghadapi peristiwa itu dengan bersemangat, hingga beberapa kali berusaha mobil bisa terbebas dari kubangan lumpur dan disambut suka cita oleh para nakes.

“Tracking di Desa Penyombaan dan mobil ambulans kami nancep, rasanya mau pingsan,” kata salah seorang nakes setelah berhasil menarik mobil dari kubangan lumpur.

Kepala Desa Penyombaan, Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kobar, Murni menyampaikan bahwa sejumlah nakes dengan APD lengkap yang mobil ambulansnya terjebak lumpur dan videonya ramai beredar tersebut merupakan tenaga kesehatan dari Puskesmas Desa Sambi yang akan melakukan tracking terhadap satu keluarga kontak erat positif Covid-19 di Desa Penyombaan, Senin (12/7) pukul 17.30 WIB.

Ia mengakui bahwa kondisi jalan dari Desa Sambi menuju Desa Penyombaan ada beberapa titik yang sangat sulit dilewati dan walaupun hari telah sore tim medis harus segera melakukan tracking ke desa mereka Meskipun jaraknya hanya 9 kilometer dari Puskesmas Sambi tapi mengingat infrastruktur sulit dilalui perjalanan bisa memakan waktu berjam-jam.

“Meski sudah sore tetapi perjalanan tetap dilanjutkan karena harus segera dilakukan tracking, sesulit apapun Medan mereka tempuh agar tidak terjadi penularan Covid-19,” ungkapnya.

Tangguhnya, setelah selesai tracking di Desa Penyombaan para nakes ini langsung ke Pangkalan Bun untuk mengambil hasil swab salah satu warga Desa Penyombaan, dengan keterbatasan waktu dan kondisi medan yang sulit para nakes tetap menjalankan tugasnya dengan baik, terlebih di musim penghujan.

Diketahui, medan yang sulit ini mereka lalui bukan hanya dalam kegiatan tracking tetapi juga saat kegiatan vaksinasi. Bahkan nakes harus melewati jalan yang lebih parah yakni menuju Desa Pandau.

“Mohon kiranya, untuk menjadi perhatian pemerintah daerah terkait dengan beberapa titik jalan ini, yang memang perlu diperbaiki salah satunya dari Sambi menuju ke Penyombaan, agar pelayanan Covid-19 dapat cepat dilakukan,” tandasnya. (sla)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *