SAMPIT, radarsampit.com – Kualitas udara di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) berpotensi terus memburuk. Pasalnya, kebakaran hutan dan lahan kian mengganas. Kondisi itu diperparah dengan sumber air pemadaman di lokasi yang kian menipis akibat cuaca panas.
Asap karhutla mencemari udara di Kotim dalam beberapa hari terakhir. Bau mulai sangit menyengat menjelang tengah malam. Saat dini hari, asap turun menyelimuti kota dan menipis menjelang pagi. Kondisi demikian bisa bertambah parah apabila karhutla belum bisa dikendalikan.
”Saat menuju tempat kerja dari km 2 menuju Bundaran Balanga pagi hari, sudah kelihatan kabut (asap),” kata Jainal, warga yang bekerja di kawasan Jalan Sudirman, Senin (14/8).
Menurutnya Jainal, kabut pada pagi itu bukan embun. Dia mencium aroma asap. Selain membuat tidak nyaman karena bau sangit menyengat, kabut asap juga mengganggu jarak pandang dan membuat mata perih.
”Kalau dari aromanya bau asap. Kalau kebakarannya di mana, saya tidak tahu. Mungkin terbawa angin,” katanya.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandara Haji Asan Sampit merilis Kalteng termasuk Kotim berada pada peta merah potensi kebakaran hutan dan lahan. Hal ini menunjukkan wilayah Bumi Tambun Bungai sangat mudah terbakar.
Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kotim, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) kemarin menunjukkan angka di atas 100. Mengindikasikan kualitas udara sudah tidak sehat. ISPU dengan indikator tidak sehat tersebut sudah terjadi sejak Minggu (13/8).
”Sejak Minggu (13/08), angka pada parameter ISPU mulai meningkat. Angka tertinggi terjadi pukul 00.00 WIB mencapai 121 poin. Lalu berangsur stabil. Semakin siang kepadatan udara berkurang dari adanya cuaca panas dan efek angin, sehingga angka parameternya berkurang sendiri,” kata Kepala Laboratorium Lingkungan Hidup DLH Kotim Dhody Wiriyanto.
Pencemaran udara yang menurunkan kualitas udara hingga berada ambang batas tidak sehat disebabkan maraknya kebakaran hutan dan lahan. ”Pemantauan ISPU dilakukan secara terus menerus menggunakan peralatan untuk mengukur kualitas udara yang dilengkapi sensor dan dipasang di halaman Kantor DLH Kotim,” jelasnya.
Data ISPU, lanjutnya, akan langsung tampil pada layar monitor di Kantor DLH. Masyarakat bisa mengaksesnya melalui aplikasi ISPUNet KLHK yang terhubung dengan ISPU di setiap wilayah.
ISPU merupakan angka tanpa satuan yang menggambarkan kondisi kualitas udara di lokasi tertentu, yang didasarkan pada dampak terhadap kesehatan manusia, nilai estetik, dan makhluk hidup lainnya.
Kian Marak
Sementara itu, dalam beberapa hari terakhir karhutla mengepung Kotim di beberapa titik. Kemarin terpantau di Jalan Moh Hatta (jalur lingkar selatan) Gang Rambutan. Api dengan ganasnya malahap lahan di wilayah itu dan terus menjalar.
Amukan si jago merah juga terjadi Sabtu (12/8) siang. Kawasan di Desa Batuah, Kecamatan Seranau, terbakar puluhan hektare luasnya hingga mendekati areal kebun warga.
Selain itu, sejumlah lokasi di Sampit juga dilahap bara, di antaranya perum WMP di Jalan Tjilik Riwut, Jalan Bawi Jahawen, Jalan Ir Soekarno Hatta, dan Jalan Metropolitan Muara 2.
Camat Seranau Juliansyah langsung menurunkan relawan siaga api (RSA) bentukan PT Rimba Makmur Utama, Masyarakat Peduli Api (MPA) di Desa Batuah dan Terantang Hilir, dibantu masyarakat setempat.
”Tadi malam (Minggu, 13/8), saya menerima laporan dari tim pemadam gabungan di kecamatan dan desa yang menginformasikan api sudah padam,” ujar Juliansyah, Camat Seranau, Senin (14/8).








