Anjing dan Intimidasi Kunci

Di Balik Liputan Penyimpangan Proyek Jalan di Pedalaman Katingan

Pemimpin Redaksi Radar Sampit Gunawan
Pemimpin Redaksi Radar Sampit Gunawan

Oleh: Gunawan

Kelotok berkelir hijau sepanjang sekitar enam meter, melaju membelah Sungai Katingan, Kecamatan Katingan Hulu, Kabupaten Katingan. Suaranya yang berisik, meraung memecah kesunyian belantara hutan siang itu, Sabtu (19/3).

Bacaan Lainnya

Perjalanan mengarungi sungai harus kami lalui, setelah lima jam lebih melahap jalan darat dari Palangka Raya menuju Tumbang Hiran. Sebagian jalan mulus beraspal, sebagian lagi berupa tanah liat tak rata. Membuat mobil yang kami tumpangi terus bergoyang.

Menuju Tumbang Sanamang, lokasi tujuan, kami harus melalui jalur sungai. Jalan darat yang ada sulit dilintasi mobil karena kondisinya yang rusak berat. Selain itu, sebagian jembatan kayu yang ada putus.

Dari atas kelotok, saya mencoba menikmati panorama pedalaman di bawah teriknya matahari. Tangan siaga memegang kamera. Hamparan hutan lebat di kanan kiri sungai jadi suguhan utama. Beberapa perkampungan kami lintasi. Sesekali saya membidik pemandangan yang menarik diabadikan.

Aktivitas penambangan emas tanpa izin yang kerap kami jumpai, cukup menarik perhatian. Warga mencari serpihan logam mulia itu di antara lumpur sungai yang disedot menggunakan mesin dompeng (diesel) yang dirakit di atas perahu.

Ada sekitar 80 mesin yang mengapung di atas air. Sebagian besar masih beroperasi. Sebagian lagi teronggok, seolah tak bertuan. Imbauan sampai larangan Pemkab Katingan yang kerap saya baca di koran agar warga tak lagi menambang di sungai, agaknya tak didengar. Mereka tetap menggeluti aktivitas itu untuk menopang penghidupan, meski dampaknya buruk bagi lingkungan.

Mendekati Tumbang Sanamang, Ibu Kota Kecamatan Katingan Hulu, laju kelotok melambat. Hujan deras tiba-tiba turun disertai angin ribut. Ledoy, motoris kelotok, langsung sigap menutupi badan perahu menggunakan terpal agar penumpangnya yang hanya kami bertiga tak kebasahan.

Sekitar dua jam lebih kami menghabiskan waktu di atas sungai hingga tujuan. Kelotok yang kami tumpangi perlahan merapat di dermaga kecil milik warga setempat. Kami tiba sekitar pukul 17.30 WIB. Hampir sembilan jam kami menghabiskan waktu di perjalanan yang dimulai sekitar pukul 09.00 WIB.

Losmen tempat kami menginap di atas dermaga lumayan nyaman. Posisinya berada di lantai dua. Di lantai bawah, pemilik losmen membuka toko kelontong. Ada belasan kamar yang disediakan dengan ukuran masing-masing sekitar 2×2 meter.

Fasilitasnya hanya kipas angin gantung dan meja kecil di sudut kanan kamar. Kasurnya empuk. Ada dua bantal, guling, dan dua selimut yang disediakan pemilik losmen. Kami harus memesan dua kamar bersebelahan. Sebabnya, rekan saya, Edy Ruswandi, membawa istrinya, Riri, untuk menemani tugas liputan.

***

Perjalanan kami sampai pedalaman Katingan membawa misi penting. Saya merancang liputan untuk menguak lebih dalam dugaan korupsi proyek jalan yang dibangun tahun 2020 silam di Katingan Hulu. Total panjangnya sekitar 43 kilometer. Melintasi sebelas desa di sepanjang aliran Sungai Sanamang.

Kasus ini menarik. Dua orang yang ditetapkan tersangka; mantan Camat Katingan Hulu Hernadie dan kontraktor proyek Asang Triasha, sama-sama menolak keras disalahkan. Berkali-kali mereka memberi pernyataan menjadi korban kriminalisasi. Aparat penegak hukum dinilai tak adil.

Berangkat dari fakta itu, saya tertarik menelusuri lebih dalam. Turun langsung ke lokasi kejadian. Menyerap informasi dari warga dan pihak terkait langsung di lapangan. Mengunjungi proyek jalan yang jadi biang permasalahan.

Hari kedua di Tumbang Sanamang, Minggu (20/3), kami berjibaku mengumpulkan informasi. Hampir seharian berkeliling sejumlah desa di sepanjang aliran Sungai Sanamang, anak Sungai Katingan yang kami lalui di hari sebelumnya.

Pos terkait