Dari Beratap Daun, Masjid Nurul Hidayah Bakal Bertingkat Dua

Jelajah Masjid di Kota Sampit selama Ramadan (17)

masjid nurul hidayah
Masjid Nurul Hidayah berada di permukiman Jalan Kenan Sandan, Jalan Ki Hajar Dewantara, Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur

Masjid Nurul Hidayah dari tahun ke tahun terus mengalami perubahan. Selama 42 tahun berdiri, masjid ini berupaya memberikan rasa nyaman dan aman untuk jemaah beribadah.

HENY, Sampit | radarsampit.com

Bacaan Lainnya

Masjid Nurul Hidayah merupakan masjid ketujuh dari sembilan masjid yang dibangun almarhum Muhammad Sabil, pendiri Masjid Jami Noor Agung yang berlokasi di Jalan Pemuda.

Letak Masjid Nurul Hidayah berada di permukiman Jalan Kenan Sandan, Jalan Ki Hajar Dewantara, Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur.

Dari tahun ke tahun, Masjid Nurul Hidayah terus mengalami perkembangan hingga menjadi masjid yang benar-benar nyaman untuk jemaah beribadah dengan tetap mempertahankan struktur bangunan asli.

masjid nurul hidayah
SALAT: Jemaah melaksanakan salat sunnah tarawih di Masjid Nurul Hidayah, Jalan Kenan Sandan, Selasa (1/4/2024). (HENY/RADARSAMPIT)

Keaslian bangunan dapat dilihat dari kubah yang sejak dari awal pembangunan hingga sekarang tak mengalami perubahan. Kubah berbentuk bundar yang setiap sisinya terdapat jendela yang sekaligus difungsikan sebagai menara masjid tetap dipertahankan.

Baca Juga :  Hindari Penumpukan, Warga Diminta Mudik Lebih Awal

Masjid Nurul Hidayah yang dibangun di atas tanah seluas 1.503 meter persegi ini menjadi bukti peninggalan alm Muhammad Sabil dalam menyebarkan agama Islam. Masjid bertipologi masjid jami ini dibangun tahun 1982 dengan luas bangunan 400 meter persegi atau 22 x 20 meter.

”Almarhum Abah Sabil bangun masjid ini setelah pulang dari ibadah haji di Mekkah,” kata Musthofa, Ketua Takmir Masjid Nurul Hidayah yang juga merangkap sebagai Ketua Takmir Masjid Jami Noor Agung.

Masjid Nurul Hidayah sudah beberapa kali direnovasi. Awalnya dibangun hanya berlantaikan tanah dan beratap daun kajang. Lima tahun kemudian, pada 1987, masjid direnovasi menjadi beton seutuhnya menggunakan dana swadaya masyarakat.

”Tahun 2006 atap kayu sirap diganti atap multiroof dan tahun 2008 mulai dipasang plafon kayu bangkirai,” ujar Musthofa saat diwawancarai Radar Sampit di teras rumahnya yang bersebelahan dengan Masjid Nurul Hidayah, Selasa (2/4/2024) malam.



Pos terkait