Masjid Nurul Hidayah dari tahun ke tahun terus mengalami perubahan. Selama 42 tahun berdiri, masjid ini berupaya memberikan rasa nyaman dan aman untuk jemaah beribadah.
HENY, Sampit | radarsampit.com
Masjid Nurul Hidayah merupakan masjid ketujuh dari sembilan masjid yang dibangun almarhum Muhammad Sabil, pendiri Masjid Jami Noor Agung yang berlokasi di Jalan Pemuda.
Letak Masjid Nurul Hidayah berada di permukiman Jalan Kenan Sandan, Jalan Ki Hajar Dewantara, Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur.
Dari tahun ke tahun, Masjid Nurul Hidayah terus mengalami perkembangan hingga menjadi masjid yang benar-benar nyaman untuk jemaah beribadah dengan tetap mempertahankan struktur bangunan asli.
Keaslian bangunan dapat dilihat dari kubah yang sejak dari awal pembangunan hingga sekarang tak mengalami perubahan. Kubah berbentuk bundar yang setiap sisinya terdapat jendela yang sekaligus difungsikan sebagai menara masjid tetap dipertahankan.
Masjid Nurul Hidayah yang dibangun di atas tanah seluas 1.503 meter persegi ini menjadi bukti peninggalan alm Muhammad Sabil dalam menyebarkan agama Islam. Masjid bertipologi masjid jami ini dibangun tahun 1982 dengan luas bangunan 400 meter persegi atau 22 x 20 meter.
”Almarhum Abah Sabil bangun masjid ini setelah pulang dari ibadah haji di Mekkah,” kata Musthofa, Ketua Takmir Masjid Nurul Hidayah yang juga merangkap sebagai Ketua Takmir Masjid Jami Noor Agung.
Masjid Nurul Hidayah sudah beberapa kali direnovasi. Awalnya dibangun hanya berlantaikan tanah dan beratap daun kajang. Lima tahun kemudian, pada 1987, masjid direnovasi menjadi beton seutuhnya menggunakan dana swadaya masyarakat.
”Tahun 2006 atap kayu sirap diganti atap multiroof dan tahun 2008 mulai dipasang plafon kayu bangkirai,” ujar Musthofa saat diwawancarai Radar Sampit di teras rumahnya yang bersebelahan dengan Masjid Nurul Hidayah, Selasa (2/4/2024) malam.
Selama 33 tahun berdiri, masjid kerap tergenang banjir karena jalan di sekitar masjid terus ditinggikan, sehingga bangunan masjid nampak lebih rendah dari jalan.
”Dulu, waktu dibangun di sini masih hutan. Tanahnya juga masih tinggi dari jalan. Tapi, bertambah tahun, jalan terus diuruk sehingga bangunan masjid menjadi rendah dan sering banjir saat hujan. Di tahun 2015, lantai bangunan masjid ditinggikan 50 cm dari lantai keramik asal. Sekeliling dinding masjid juga dikeramik warna hijau,” ujarnya.
Tahun 2018 mulai dibangun pagar keliling dan 2019 pemasangan paving di halaman masjid. Kemudian, tahun 2020 masjid mulai dipasang pendingin ruangan (AC) sebanyak 7 unit dan 2022 dipasang CCTV di enam titik karena sering terjadi kemalingan kotak amal.
”Sebelum dipasang CCTV, masjid sering kemalingan. Setelah dipasang CCTV sudah berkurang,” ujarnya.
Di sisi sebelah barat masjid juga terdapat lahan yang diperuntukkan sebagai pemakaman seluas 25 x 30 meter. ”Awalnya makam ini diperuntukkan khusus orang yang berjasa membangun masjid dan untuk makam keluarga. Karena terjadi konflik antaretnis tahun 2001 lalu, warga sekitar menguburkan jenazah di lahan makam itu. Sekarang sudah ditutup, karena lahannya sudah penuh,” ujarnya.
Di bidang pendidikan, Masjid Nurul Hidayah juga sudah memiliki TK Nurul Hidayah Sabilillah dengan 4 ruang kelas berjumlah 50 murid dan mendirikan Pondok Pesantren Nurul Hidayah Sabilillah berjumlah 100 santri.








