Kantor Perwakilan Wilayah Bank Indonesia (KPw-BI) Provinsi Kalteng menggelar Forum Komunikasi Media (FKM) bersama sejumlah wartawan di Hotel Grand Tulip Holland, Kota Batu, Malang, Jawa Timur. Berikut liputannya.
DODI, Kota Batu | radarsampit.com
Hamparan ribuan pohon apel dengan jalan yang berkelok langsung tersaji di depan mata saat Radar Sampit tiba di agrowisata petik apel Desa Dusun Junggo, Desa Tulung Rejo, Kecamatan Bumi Aji, Kota Batu, Malang, Jawa Timur. Hawa yang sejuk membuat suasana alam yang asri kian nyaman.
Kesan pertama itu ditunjang lahan yang terkelola dengan baik. Tanah subur dengan lekukan tanamannya menjadi daya tarik. Pohon buah yang berjejer rapi, membuat pemandangan semakin nyaman.

Wartawan Radar Sampit ikut dalam rombongan Kantor Perwakilan Wilayah Bank Indonesia (KPw-BI) Provinsi Kalimantan Tengah yang melaksanakan kegiatan Forum Komunikasi Media (FKM). Acara itu dihelat di Hotel Grand Tulip Holland, Kota Batu.
Untuk menuju ke lokasi agrowisata, perlu menempuh perjalanan beberapa menit dari hotel. Kawasan tersebut bukan hanya jadi sumber penghidupan para petani apel, tapi juga menopang perekonomian warga, seperti pedagang asongan.
Ada dua apel apel yang bisa dinikmati pengunjung, yakni apel merah dan hijau. Buah tersebut murni dibudidayakan tanpa pestisida, hanya menggunakan pupuk alami. Tanaman diberi vitamin khusus.
”Keindahan alam begitu luar biasa. Buah apel yang ada juga bisa dijadikan obat. Ini salah satu area (kebun apel) terbesar di Asia. Keunggulannya tidak menggunakan pestisida,” kata Kuswantono, selalu pemandu wisata.
Sebagai petani apel, dia melanjutkan, wisata petik apel memberikan semangat bagi masyarakat, khususnya petani. Selain itu, juga mampu memulihkan ekonomi warga.
”Kami bergantung pada hal tersebut. Wisata petik apel ini adalah gantungan hidup bagi petani. Jika dipanen dan dijual, keuntungan sedikit. Tapi, jika menerapkan petik apel, maka lonjakan keuntungan didapat,” ucap pria berusia 50 tahun ini.
Kuswantono menuturkan, berkah dari petik apel dan dampak positif pariwisata juga dirasakan pedagang dan masyarakat sekitar. Sejak Kota Batu jadi kota wisata tahun 2021, masyarakat, petani apel, dan pemandu wisata menyebutnya berkah dari Tuhan.
”Banyak dampaknya. Para petani banyak yang bisa menyekolahkan anaknya SMA hingga perguruan tinggi. Kami menyebutnya berkah langsung dari Tuhan,” ujarnya.
Kuswanto mengatakan, tidak hanya dari alam dengan tumbuh suburnya pohon apel, berkah juga datang dari pengunjung. Bahkan, pernah hanya dalam satu jam ada seribu orang. Adapun rata-rata kunjungan per hari mencapai 100-200 wisatawan. Hal itulah yang membuat petani sejahtera.
”Ini memang sangat luar biasa. Pengunjung ingin merasakan langsung petik buah apel dan menyantapnya di tempat,” katanya.
Meski demikian, Kuswantono berharap ada perhatian lebih dari pemerintah. Terutama dalam pendampingan dan subsidi pupuk, serta vitamin khusus.
”Harapan ke pemerintah, kalau dari petani ada pendampingan. Kalau bisa subsidi pupuk dan obat-obatan. Semakin adanya saling dukung antara pelaku wisata dan petani, maka wisata ini semakin besar,” katanya.
Sukardi (40), pedagang asongan di kawasan itu mengatakan, wisata petik apel merupakan berkah luar biasa bagi dirinya dan puluhan pedagang lain. ”Alhamdulillah, kami meraih omset bisa mencapai tiga kali lipat. Kami juga menyebut ini berkah dari Tuhan untuk pariwisata. Jika semakin dikelola, bukan tak mungkin akan jauh berdampak baik,” katanya.
Berkah petik apel juga dirasakan pengemudi Jeep, Manda. Menurutnya, pemasukan untuk membentuk keluarga kecilnya terpenuhi. Bahkan, bisa lebih. ”Kami mensyukuri nikmat Tuhan. Wisata ini memang berkah dari Tuhan,” katanya.








