SAMPIT – Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur Rudianur mendesak Dinas Pertanian Kotim memberikan bantuan pada petani yang merugi akibat banjir. Para petani tersebut wajib dibantu karena mereka merupakan garis depan ketahanan pangan di Kotim.
”Petani merugi akibat banjir ini. Mereka harus dibantu agar bisa kembali menanam lahan pertanian mereka, misalnya melalui bantuan bibit dan pupuk dari pemerintah,” kata Rudianur, Minggu (29/5).
Hal itu disampaikan Rudianur merespons banjir yang menyebabkan puluhan hektare tanaman hortikultura di Kecamatan Mentaya Hilir Utara gagal panen. Sudah sekitar sepekan banjir melanda sejumlah desa di Kecamatan Mentaya Hilir Utara, yaitu Natai Baru, Natai Nangka, Ramban atau Bagendang Tengah, dan Sumber Agung.
Banjir cukup parah terjadi di Desa Sumber Makmur, karena ada 36 rumah yang terendam. Selain itu, sejumlah fasilitas umum dan puluhan hektare lahan pertanian diperkirakan gagal panen akibat terendam berhari-hari.
Rudianur turun ke beberapa lokasi untuk melihat kondisi warga. Dia juga meninjau lahan pertanian warga yang terendam cukup parah akibat bencana tersebut. Apresiasi disampaikan Rudianur kepada Pemkab Kotim yang telah menyalurkan bantuan berupa kebutuhan pokok untuk korban banjir.
Akan tetapi, sesuai aspirasi masyarakat, dia berharap pemerintah juga memberi bantuan di bidang pertanian agar petani bisa kembali menanam saat banjir surut. Hal tersebut untuk mengganti tanaman yang gagal panen.
”Banjir kali ini memang cukup parah, sehingga banyak tanaman yang terendam. Untuk itulah kami berharap Dinas Pertanian bisa membantu petani agar mereka bisa kembali menanami lahan mereka,” ujar Rudianur.
Banjir tahun ini tidak seperti biasanya, karena berdampak besar terhadap pertanian. Kebun sayur yang terendam, di antaranya buncis, cabai merah, jagung, kacang, dan sayur mayur. Ada sekitar 25 hektare lahan petani yang terendam.
”Untuk modal tanam saja diperkirakan Rp 5 juta. Kalikan saja 25 hektare. Diperkirakan kerugiannya ditaksir mencapai Rp 125 juta,” ujar Kepala Desa Sumber Makmur Supriyo
Menurut Supriyo, dari 412 KK (1.351 jiwa), sebanyak 45 KK terdampak banjir. Dan 30 KK diantaranya tergenang banjir di kisaran 5-15 cm dari atas lantai rumah. ”Genangan banjir sebenarnya berbarengan dengan Natai Baru. Cuma, genangan baru naik karena air pasang ditambah hujan deras selama dua hari berturut-turut,” ujar Supriyo.
Selain itu, lanjutnya, fasilitas umum, seperti musala, kantor desa, sekolah, terdampak banjir, meskipun air tak sampai naik ke lantai bangunan. ”Semua halaman di sekolah, kantor desa, dan musala tergenang, tetapi belum sampai naik ke lantai,” ujarnya.
Menurutnya, sudah sekitar lima hari ini intensitas air semakin bertambah, karena dibarengi curah hujan yang sangat tinggi, serta air pasang dari Sungai Mentaya yang naik.
”Dari Sungai Sampit masuk arahnya ke Sumber Makmur, jadi dua tanggul atau sungai cabang dari Lenggana 2 serta dari Sungai Tenggarap itu tidak bisa menampung intensitas air yang semakin hari semakin tinggi,” jelasnya.
Sementara itu, jumlah warga yang terdampak, khususnya di RT 04 sampai RT 06 kurang lebih sekitar 30 KK, RT 01 dan RT 02 sekitar 25 KK, sedangkan dari RT 12 sama RT13 sekitar 40 KK. Lokasi itu memang menjadi langganan banjir setiap tahun, namun untuk tahun ini kondisi lebihnya lebih parah karena banjir masuk hingga ke dalam rumah.
Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Kotim Sepnita mengatakan, pihaknya akan berupaya membantu petani yang mengalami musibah tersebut.
”Untuk bantuan, insya Allah akan menjadi perhatian kami. Kami masih menunggu hasil identifikasi lapangan oleh petugas lapangan, berapa yang terdampak dan apa saja bantuan yang diperlukan petani,” katanya.








