DPRD Kotim Minta Pemkab Audit Pabrik Sawit

Terkait Dugaan Pencemaran Lingkungan

muhammad abadi, ketua fraksi pkb dprd kotim
Muhammad Abadi, Ketua Fraksi PKB DPRD Kotim. (Antara)

SAMPIT, radarsampit.com – Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Muhammad Abadi mendesak agar pabrik kelapa sawit di Kotim dilakukan audit. Pasalnya, banyak laporan masyarakat terkait pencemaran lingkungan dari aktivitas pabrik.

”Belakangan ini kami sering mendapatkan pengaduan mengenai pencemaran lingkungan oleh pabrik kelapa sawit dan ini selalu berulang. Maka itu kami minta pemerintah dan aparat penegak hukum serius menangani persoalan ini, karena sampai saat ini dari beberapa permasalahan tidak ada satupun kasus itu pernah diusut tuntas dan selalu berakhir dengan tidak jelas,” kata Abadi, Rabu (6/3/2024).

Bacaan Lainnya

Abadi menuturkan, dengan banyaknya pabrik pengolahan hasil kelapa sawit, tidak menutup kemungkinan ada pabrik yang tidak sesuai standar. Apalagi limbah yang dibuang bisa saja tanpa proses dan berpotensi membahayakan.

”Saat ini musim penghujan, dikhawatirkan limbah pabrik yang dibuang di penampungan kolam, meluber keluar lalu mengalir ke anak sungai di sekitarnya hingga terjadi pencemaran lingkungan,” kata Abadi.

Baca Juga :  DUH!!! Aspirasi Pedagang Mandek di DPRD Kotim

Dia menyesalkan selama ini kasus pencemaran lingkungan tidak pernah diungkap. Padahal, sanksi kejahatan lingkungan tersebut tidak main-main, namun penegakan hukumnya masih lemah.

”Dari beberapa kasus pencemaran lingkungan itu tidak ada endingnya. Semuanya berakhir dengan sesuatu yang saya anggap aneh. Padahal, jelas kasusnya kematian ikan di sungai dengan jumlah ribuan, tapi tidak pernah ada tersangka siapa yang bertanggung jawab. Banyak lagi kasus lainnya yang mestinya mendapatkan atensi khusus dari aparat penegak hukum dan pemerintah daerah,” katanya.

Abadi mencatat sejumlah kasus dugaan pencemaran oleh pabrik pernah terjadi di wilayah Kecamatan Telawang. Anak sungai di sekitarnya tercemar hingga ribuan ikan mati. Tetapi, hasil penyelidikan tidak membuahkan hasil dan perusahaan yang diduga melakukan tidak ada tindak lanjutnya.

Dia juga menyebut sejumlah pencemaran lainnya yang penanganannya akhirnya tak ada kejelasan. ”Pertanyaan saya, apakah kasus-kasus itu pernah jadi perhatian hingga diproses hukum? Kan belum pernah ada tersangkanya sampai hari ini dan dipeti-eskan,” ujarnya. (ang/ign)



Pos terkait