Gelap-gelapan, Warga Hanjalipan Harapkan Kehadiran Listrik dan Sekolah

BANTUAN: Ratusan paket bantuan dari donatur untuk warga Desa Hanjalipan harus diangkut menggunakan kelotok. (HENY/RADAR SAMPIT)

Selama puluhan tahun warga Desa Hanjalipan, Kecamatan Kotabesi, belum menikmati listrik. Mereka berusaha berdamai dengan gelapnya malam. Mengurangi aktivitas dengan penerangan seadanya. Berharap mentari pagi segera menyapa.

HENY, Sampit

Bacaan Lainnya

Langit jingga sore itu perlahan memudar. Warga desa nampak sudah bersiap menyambut malam yang jauh dari keramaian dan penerangan. Bagi warga yang mampu membeli bahan bakar minyak (BBM), mesin genset dan solar cell jadi pilihan. Ada pula warga yang memilih menggunakan lampu teplok atau lampu lentera ataupun menggunakan aki sebagai penerang malam.

Ahmad (54) baru saja mengisi daya aki miliknya yang menjadi barang berharga untuk menerangi rumahnya di malam hari. Dalam kondisi rumah yang masih tergenang banjir, dengan penerangan seadanya, dia beraktivitas malam hari dengan penuh hati-hati.

Lantai kayu yang berlubang dan genangan banjir yang menyelimuti rumahnya membuatnya kesulitan bergerak. Namun, gelapnya malam dan banjir yang nampaknya sudah biasa dihadapi warga.

Meski demikian, warga memiliki harapan suatu saat Desa Hanjalipan memiliki jaringan listrik yang bisa menerangi hingga 24 jam tanpa batas, layaknya di perkotaan.

”Beraktivitas dalam kegelapan dan penerangan yang seadanya sudah biasa bagi kami. Banjir pun sudah biasa kami hadapi setiap tahun. Ya, walaupun kami juga ingin suatu saat Desa Hanjalipan teraliri listrik,” kata Ahmad saat menunjukkan aki yang biasa digunakannya untuk penerangan.

Sebagian besar warga Desa Hanjalipan tinggal di bantaran Sungai Mentaya. Sepanjang 1.800 meter rumah warga yang terbuat dari kayu berjejer.

Ketika Radar Sampit mengunjungi Hanjalipan, toilet hampir tak pernah ditemukan. Setiap rumah masih mengandalkan jamban; ruang persegi yang terbuat dari kayu mengapung di atas air yang biasa digunakan warga untuk buang hajat.

Kehadiran listrik begitu diimpikan warga. Purliansyah (52), Ketua RT 3 RW 2 yang ketika itu mengantarkan Radar Sampit menggunakan kelotok menuju rumah Kades Hanjalipan mengatakan, warga begitu mengharapkan kehadiran listrik dan sekolah.

”Yang kami butuhkan dan kami impikan selama ini listrik dan sekolah menengah pertama (SMP). Di sini hanya ada SDN 1 Hanjalipan yang sekarang kondisinya banjir. Banyak warga Desa Hanjalipan yang harus bersekolah SMP ke Tehang, naik kelotok selama 30 menit,” kata Purliansyah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *