Guru Tersingkir Wajah Baru

Bertugas di Pedalaman, Gugur saat Pengumuman

guru
ILUSTRASI.(RADAR BOJONEGORO/JAWAPOSGROUP)

SAMPIT, RadarSampit.com – Sejumlah guru berstatus tenaga kontrak di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dinyatakan gagal dalam seleksi yang diikuti pada 23 Juni lalu. Keganjilan menyeruak karena guru yang lolos sebagian dinilai sebagai wajah baru. Sejumlah guru honorer bahkan menyebutnya sebagai tenaga kontrak siluman.

”Banyak tenaga kontrak siluman. Tak pernah saya melihat dia mengajar. Malah saya bingung, kenapa ikut tes justru lulus,” kata salah seorang guru tenaga kontrak di Kecamatan Seranau yang sudah mengabdi selama 16 tahun, Jumat (1/7).

Bahkan, lanjut tenaga pendidik yang meminta namanya tak disebutkan ini, ada tenaga kontrak yang hanya memiliki ijazah SMA dan baru diangkat jadi tenaga kontrak, justru dinyatakan lulus.

”Ke mana hati nuraninya pemerintah ini? Saya yang berjuang kuliah meraih gelar S-1, mengajar belasan tahun tidak lolos. Sementara tenaga kontrak yang hanya lulusan SMA bisa lolos,” kata tenaga guru lainnya.

Para tenaga kontrak yang tak lolos ini juga mengaku bingung pada istilah evaluasi yang digunakan, karena seharusnya itu dilakukan untuk mengurangi tenaga kontrak. Namun, faktanya, justru malah menambah tenaga kontrak baru.

”Kami semua terima saja melaksanakan evaluasi. Kami siap menerima hasilnya, tetapi bukan begini caranya. Ini sudah jelas pemerintah tidak bersikap transparan. Namanya evaluasi itu bukan menambah tenaga kontrak baru menjabat. Kerja keras kami selama belasan tahun mengajar benar-benar tidak dihargai pemerintah. Malah meluluskan tenaga kontrak yang masih minim pengalaman,” ujarnya.

Sambil berurai air mata, tenaga kontrak guru yang bertugas di Kecamatan Kotabesi ini kecewa berat dengan kebijakan seleksi yang dinilai tidak adil. ”Saya kira tidak ada gunanya tes tertulis kalau ujung-ujungnya hasilnya seperti ini. Banyak pihak yang melibatkan orang dalam. Apalah daya kami yang tidak punya kedekatan dengan ‘orang dalam’. Kami hanya berjuang menjawab soal dengan sungguh-sungguh dan saya yakin saya sudah menjawab sebaik mungkin, tetap saja hasilnya tidak lulus,” ucapnya sambil mengusap air matanya.

Sebagai tulang punggung keluarga, dia mengaku berat menghadapi masa depan selanjutnya setelah kehilangan pekerjaannya. ”Orang tua di rumah sedih. Menangis mengetahui kabar saya tidak lulus. Saya kasihan dengan orang tua yang sudah keluar uang banyak menguliahkan saya, ternyata dihadapkan pada cobaan seperti ini,” ujarnya.

Tenaga kontrak guru lainnya menegaskan, dirinya tak bisa langsung banting setir mencoba usaha lain atau menjadi petani. ”Kami ini sarjana pendidikan. Kami tidak punya pengalaman. Kalau yang lulusan sarjana pertanian mungkin cocok,” ujarnya.

Kekecewaan juga disampaikan tenaga kontrak guru yang bertugas di Telaga Antang. Pasalnya, kedua tenaga kontrak yang mengajar di SD Rantau Sawang dinyatakan tidak lulus.

”Guru di SD itu hanya ada dua. Saya dan teman saya. Kalau kami berdua ini tak lulus, bagaimana nasib murid kami? Siapa yang mau mengajari mereka? Jarang ada guru yang mau ditugaskan di daerah pedalaman. Kami yang sudah berkorban mengabdikan diri mengajar di daerah hulu, jauh dari kota malah tidak lulus,” ujarnya.

Sementara itu, pantauan Radar Sampit, sejumlah guru tenaga kontrak berkumpul di Kantor Sekretariat PGRI di Jalan Ahmad Yani. Mereka menunggu hasil keputusan rapat yang digelar Ketua PGRI Kotim bersama pengurusnya. Rapat internal yang berlangsung kurang lebih tiga jam itu juga diikuti sejumlah kepala sekolah.

Ketua PGRI Kotim Suparmadi mengatakan, rapat yang dilaksanakan secara internal ini ditujukan untuk menampung suara tenaga kontrak, khususnya para guru yang tak lolos. Pihaknya berupaya mencari solusi bagaimana agar tenaga kontrak guru yang tidak lulus dapat tetap bekerja menjadi tenaga honor.

Pos terkait