Harga-Harga Melejit, Perekonomian Rakyat Kian Tercekik

gas elpiji
Ilustrasi. (jawapos.com)

SAMPIT – Harga gas liquefied petroleum gas (LPG/elpiji) yang melejit, mencekik perekonomian para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kenaikan tersebut membuat pelaku usaha terpaksa mengurangi produksi. Angan meraih untung selama Ramadan, harus pupus akibat harga yang tak bisa dikendalikan.

Halifah (48), pedagang kue bingka di Sampit, Minggu (10/4), menuturkan, sejak harga gas elpiji naik, produksi kue yang biasanya mampu mencetak 100 loyang per hari, kini hanya 30-50 loyang.

Bacaan Lainnya

”Sebelum bulan puasa sudah rencana jualan. Sudah nambah beli oven baru dan cetakan loyang. Ternyata pasarannya sepi. Harga barang juga serba naik. Elpiji naik, tepung, gula, telur, minyak goreng, serba naik. Mau menaikkan harga kue juga berat,” kata Halifah ditemui di kediamannya Jalan DI Panjaitan, Minggu (10/4).

Sebagai pedagang kue yang sudah belasan tahun berjualan bingka, dia tak menyangka tahun ini penjualan mengalami penurunan produksi. Termasuk pendapatan. Padahal, sebelumnya dia optimistis menyambut Ramadan 1443 Hijriah.

Baca Juga :  Ini Dia Biang Sering Melonjaknya Harga Kebutuhan Pokok

”Pemerintah sudah tak memberlakukan lockdown. Covid-19 juga turun. Makanya saya mengira tahun ini penjualan bakalan ramai. Ternyata, banyak juga kawanan pedagang kue yang jualannya banyak tersisa. Apalagi kalau hujan. Tersisa dua saja, sudah tak dapat untung,” ungkapnya.

Halifah memilih tidak menitipkan produknya ke lapak pedagang kue. Dia berjualan di rumah yang dibuat sesuai pesanan.

”Saya tak mau mengambil risiko. Sudah barang naik, kue tak habis, yang ada bukannya untung, malah rugi. Tahun ini hanya menerima pesanan dari orang saja, putus harga, tanpa risiko. Saya beri harga lebih murah, Rp 28 ribu per loyang. Dia jual lagi Rp 30-35 ribu. Walaupun untungnya tipis sekali, yang penting jualan habis,” ujarnya.

Pos terkait