Hujan Disertai Petir di Pangkalan Bun Sebabkan Banjir dan Pemadaman Listrik

banjir
BANJIR : Menyelamatkan barang berharga dan untuk keperluan tidur, korban banjir di Kotawaringin Barat membuat panggung di dalam rumah, Rabu (1/5/2024). (ISTIMEWA/RADAR PANGKALAN BUN)

PANGKALAN BUN, radarsampit.com – Hujan deras disertai angin kencang dan petir, mengguyur Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah (Kalteng).

Kondisi ini membuat warga yang tinggal di bantaran Sungai Arut, Kota Pangkalan Bun kalang kabut. Sebabnya, curah hujan yang tinggi dengan durasi waktu lama, air dengan cepat naik hingga masuk ke dalam rumah warga.

Bacaan Lainnya

Cepatnya debit air meningkat membuat warga terdampak banjir tidak sempat mengeluarkan perabotan rumah tangganya, kasur dan lemari pakaian tidak sempat terselamatkan.

Terpaksa warga semalaman tidur di tengah kepungan air yang terus meninggi memasuki rumah mereka. Sementara itu warga yang memiliki stok papan langsung membuat panggung di rumahnya. Suara palu bersahut-sahutan hingga tengah malam menjelang.

Parahnya, di tengah kepanikan warga menghadapi banjir dadakan luapan Sungai Arut, diwarnai matinya aliran listrik PLN, kondisi tersebut membuat malam terasa mencekam.

Warga terpaksa menyalakan lilin dan lampu minyak untuk penerangan sementara sembari menunggu kondisi listrik menyala.

Baca Juga :  Pembangunan Bandara Baru Tunggu Penentuan Titik Lokasi dari Kemenhub

Pagi harinya, meski debit air menurun namun tidak signifikan, karena ketinggian air masih di atas lantai rumah warga. Warga melanjutkan kegiatan mendirikan panggung dalam rumah karena pada siang hari langit di Kota Pangkalan Bun kembali mendung.

Kekhawatiran warga terbukti, hujan deras kembali turun dan air kembali naik meski hanya beberapa centimeter tetapi cukup membuat warga khawatir.

Warga RT 02, Kelurahan Raja Seberang, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat, Gunawan mengatakan, ia tidak menyangka air begitu cepat naik saat hujan deras turun, pakaian dan kasur tidak sempat diselamatkan hingga basah.

“Sebelum hujan masih sekitar 1 centimeter di bawah rumah, tetapi ketika hujan turun tidak berselang lama air sudah naik ke rumah, tidak sempat lagi menaikan barang-barang,” ungkapnya.

Lanjut dia, baru tadi pagi ia bersama ayahnya bahu membahu membuat panggung untuk menaikan barang, karena debit air sungai masih berpotensi naik mengingat cuaca tidak menentu.



Pos terkait