RadarSampit.com – Torehan sejumlah prestasi yang diukir seorang atlet catur Kotim, tak membuat pihak terkait berusaha memupuknya untuk menjadi generasi emas masa depan. Alih-alih dukungan, atlet tersebut harus berjuang sendirian meraih mimpi menjadi Grand Master, gelar tertinggi dalam dunia catur.
HENY, Sampit
Nama Edward Ritsi Pierrlie sudah tak asing lagi di kalangan pecatur Kotim, bahkan Kalimantan Tengah. Berbagai ajang perlombaan di tingkat daerah, nasional, hingga internasional sudah pernah dia ikuti. Ada 46 penghargaan yang menjadi bukti sepak terjangnya pada dunia olahraga asah otak yang dia geluti.
Meski dari ajang turnamen maupun kejuaraan tingkat provinsi dan nasional hingga internasional, dia tak selalu meraih juara 1, Edward tak patah arang untuk terus mengikuti berbagai turnamen.
”Saya pernah mendapatkan piagam penghargaan dalam event Japfa Chess tingkat internasional yang diselenggarakan di Bekasi, tahun 2019 lalu. Saat itu saya belum meraih juara, tetapi setiap lomba yang saya ikuti tetap memberikan pengalaman berharga bagi saya untuk terus melatih kemampuan bermain. Karena, dari situ saya punya kesempatan mempelajari taktik pemain kelas dunia dalam memainkan catur,” kata atlet muda kelahiran Sampit, 25 Agustus 2001 ini.
Kecintaan Edward terhadap dunia catur berawal dari bangku kelas lima SD. Ketika itu, Edward kecil sering menyaksikan kakeknya bermain. Dari situ dia mulai tertarik belajar di bawah bimbingan sang kakek.
”Awalnya karena sering melihat kakek main catur dengan tetangga. Setelah itu diajarkan kakek. Merasa sudah bisa, saya coba ikut lomba untuk pertama kalinya pada kegiatan O2SN tingkat kabupaten dan meraih juara dua,” ucap mahasiswa semester enam Strata-1 Keperawatan, Universitas Sari Mulia Banjarmasin.
Kegemarannya terhadap permainan catur juga sejalan dengan karakternya yang senang berpikir dan menghafal. Menurutnya, catur bukan hanya sekadar permainan, tetapi diperlukan latihan rutin dan didukung pemahaman teori, serta hafalan yang kuat.
”Saya rela habiskan masa remaja setiap enam jam sehari secara rutin untuk berlatih catur. Catur memerlukan ketekunan dan memahami teknik dalam bermain, sehingga saya bisa mudah menjemput kemenangan,” ujarnya.
Merasa yakin dengan kemampuan dan bakat yang dimiliki, Edward kemudian belajar memperdalam teknik permainan catur dan terus berlatih tanpa kenal lelah. Hasilnya, berbagai ajang perlombaan dimenangi.
Untuk membangkitkan semangat dalam berlatih catur, Edward juga meluangkan waktunya belajar melalui saluran Youtube hingga berjam-jam. Dia termotivasi pada pemain idolanya, Magnus Carlsen, pecatur nomor satu dunia asal Norwegia.
”Hampir setiap ada waktu luang saya belajar dengan menonton lewat Youtube, karena saya termotivasi ingin seperti dia (Magnus, Red),” ucapnya yang sempat bergabung menjadi atlet Percasi Kotim sejak 2012 lalu.
Di sela kesibukannya sebagai mahasiswa, Edward masih rutin berlatih catur secara daring. ”Latihannya biasanya malam hari. Karena, saya sambil mengerjakan tugas kuliah juga. Yang pasti tiap malam saya berlatih minimal 2-3 jam,” katanya.
Selain itu, selama sebulan terakhir ini, Edward juga tengah disibukkan menjadi pelatih catur secara daring di Universitas PGRI Semarang. ”Awalnya mereka berkirim pesan, meminta saya melatih untuk persiapan Pekan Olahraga Seni Mahasiswa yang akan diselenggarakan 6 Juni ini. Tidak ada salahnya saya iyakan, selagi waktu melatih tidak bentrok dengan kuliah,” kata Edward.
Dengan kesibukannya sebagai mahasiswa, Edward tak lantas berhenti mengejar mimpi. Saat ini Edward juga sedang memersiapkan diri menghadapi turnamen kategori catur kilat yang diadakan Ketua DPD RI La Nyalla Mahmud Mattalitti pada 22 Mei 2022 di Bekasi.








