Kisah Penjajah Berwujud Wabah

HUT RI Momentum Kobarkan Semangat Melawan Virus

covid-19
MELAWAN COVID-19: Program vaksinasi merupakan salah satu upaya memerangi Covid-19. (ISTIMEWA/RADAR SAMPIT)

Sudah 17 bulan ini Bangsa Indonesia berperang melawan amukan virus mematikan. Nyawa anak negeri silih berganti direnggut pandemi. Dampaknya menyebar di semua lini. Namun, kita belum kalah. Peringatan HUT RI jadi momentum mengobarkan semangat menghancurkan penjajah berwujud wabah.

==============

Bacaan Lainnya

Pria berusia 70 tahun itu terlihat gelisah. Beberapa kali dia mengganti posisi tidurnya. Sesekali dia juga duduk, meski harus berusaha sedikit lebih keras. Jarum infus yang menancap di lengan kirinya, menghambat aktivitas pensiunan abdi negara itu.

Tak jauh dari tempat tidur pria itu, sang istri yang berusia 62 tahun tak kalah gelisah. Namun, kondisinya tubuhnya masih lebih kuat dibanding sang suami. Beberapa kali juga dia menerima telepon dari kerabat yang menanyakan kondisi keduanya.

Hari itu, Senin (2/8), pasutri lansia itu baru saja dirujuk ke rumah sakit swasta di Kota Palangka Raya. Keduanya dinyatakan positif Covid-19 berdasarkan hasil tespolymerase chain reaction (PCR) dua hari sebelumnya di rumah sakit yang sama.

Meski tergolong pasien Covid-19 yang rentan karena berusia lanjut dan memiliki penyakit bawaan (komorbid), mereka tak langsung dirawat di rumah sakit. Pasalnya, kondisi ruang isolasi sedang penuh. Antreannya mencapai puluhan orang.

Baru dua hari setelahnya mereka bisa dapat ruangan. Sebelum masuk, keduanya sudah mencoba perawatan mandiri. Alih-alih membaik, kondisinya justru memburuk. Terutama sang suami.

”Ayah saya sempat tak bisa makan selama beberapa hari, sehingga terpaksa harus diinfus. Dipaksa makan pun tak bisa, karena dimuntahkan lagi. Ibu saya kondisinya lebih baik meski juga dinyatakan positif. Masih bisa makan seperti biasa,” ujar Fadli (nama samaran) yang meminta identitas dirinya dan kedua orang tuanya tak disebutkan.

Selain sulit makan, lanjut pemuda berusia 31 tahun itu, ayahnya juga sempat mengalami gejala umum pasien Covid-19, sesak napas. ”Sempat kesulitan mencari oksigen. Untungnya ada yang menjual meski dapat ukuran besar yang harganya agak mahal,” ujarnya.

Dia mengaku agak sedikit lega kedua orang tuanya bisa dirawat di ruang isolasi. Artinya, mereka akan mendapat penanganan medis secara maksimal. Di sisi lain, dia juga khawatir tak bisa lagi memantau secara langsung, karena rumah sakit melarang interaksi langsung dengan pasien meski ada hubungan darah.

”Mengantar barang atau makanan pun harus dititip lewat perawat. Kami hanya bisa memantau kondisi kesehatan mereka melalui tenaga medis,” ujarnya.

Menurut Fadli, perawat sempat berujar kondisi ayahnya sudah agak terlambat dibawa ke rumah sakit. Namun, petugas benteng terakhir perang melawan pandemi itu memastikan pihaknya akan berupaya semaksimal mungkin.

”Ayah saya sempat kritis dan merasakan sakit saat bernapas. Dokter pun sempat khawatir. Namun, untungnya masa kritis itu bisa dilewati. Ayah saya berusaha untuk tetap hidup melalui bantuan oksigen,” katanya, seraya menambahkan, orang tuanya diinapkan di satu ruangan yang sama yang hanya diisi dua pasien.

Fadli yang lebih dulu terinfeksi sebelum kedua orang tuanya itu menuturkan, dia berusaha memberikan semangat pada orang tuanya dengan rutin melakukan panggilan video setiap hari. Semua permintaan makanan yang dipesan, juga sebisa mungkin dipenuhi.

Meski demikian, rasa khawatir dan teror virus itu terus menghantui dirinya. Apalagi ketika dia membuka media sosial, kabar duka silih berganti dari pasien dengan penyakit yang sama.

”Virus ini betul-betul menjajah mental dan psikologis. Terutama orang yang sedang diserangnya. Apalagi pasien tak bisa bertemu siapa pun selama masa isolasi. Itu jadi beban tersendiri,” katanya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *