Kisah Pilu di Panti Asuhan Annida Qolbu (2-Habis)

Sanggup Makan Nasi Bertabur Garam demi Menghidupi Anak Yatim

Panti Asuhan Annida
PANTANG MENYERAH: Rohani merawat anak panti dengan penuh kasih sayang meskipun hidupnya dijejali banyak kesulitan

RadarSampit.com – Perjuangan Rohani mendirikan Panti Asuhan Annida Qolbu tidaklah mudah. Keadaan hidup yang serbasulit dengan penghasilan yang tak menentu membuat hidupnya kian rumit. Namun, nuraninya tak tinggal diam ketika melihat manusia dengan nasib memilukan.

HENY, Sampit

Sebuah rumah tipe 36 di Jalan Jaya Wijaya II, Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur menjadi saksi peliknya kehidupan Rohani. Di tahun 1997 silam, Rohani memberanikan diri berjuang menampung, mengasuh, merawat, dan menghidupi 15 anak yatim. Tujuh di antaranya disabilitas.

Rohani dipertemukan belasan anak yatim piatu itu melalui perantara seorang tokoh agama dari berbagai lintas agama. Anak-anak bernasib malang itu ada yang berasal dari Kecamatan MB Ketapang, Baamang, dan Samuda, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kotim.

Bukan tanpa sebab para tokoh agama mempercayakan Rohani mengasuh anak yatim. Bahkan, tidak hanya mengasuh, tetapi menghidupi belasan anak yatim. Di masa itu, Rohani bekerja sebagai seorang jurnalis lepas sejak tahun 1994. Dia mengawali karier jurnalisnya di koran Banjarmasin Post selama dua tahun.

Baca Juga :  Nasabah BRI dari Kuayan dan Hanau Dapat Mobil

Setelah itu, Rohani pindah tugas ke Indonesia Ekspos selama dua tahun sampai 1997. Sekitar tahun 1999, Rohani dan Zulkifli Nasution yang saat itu aktif menjabat sebagai jurnalis sekaligus Ketua PWI Kotim, Ruslan Abdul Gani seorang jurnalis senior dan Zam’an, aktivis, sempat mendirikan media cetak Koran Borneo.

Semasa masih aktif menjadi jurnalis, Rohani kerap menulis tentang isu kemanusiaan. Tak sedikit orang yang merasa simpatik dan tertarik membaca tulisannya. Bahkan, tak sedikit pula orang yang datang kepadanya untuk sekadar mencurahkan isi hati dalam setiap problem kehidupan yang dialami.

Pos terkait