Kisah Pilu di Panti Asuhan Annida Qolbu (2-Habis)

Sanggup Makan Nasi Bertabur Garam demi Menghidupi Anak Yatim

Panti Asuhan Annida
PANTANG MENYERAH: Rohani merawat anak panti dengan penuh kasih sayang meskipun hidupnya dijejali banyak kesulitan

Rohani menjadi  perantara orang lain untuk mencari jalan keluar untuk mengatasi masalah hidup orang lain. Tak heran, para tokoh agama mempercayakannya untuk merawat anak yatim piatu yang memiliki latar belakang kehidupan yang memilukan.

”Saya pernah menolak. Saya juga yatim piatu dan saya tahu bagaimana sulitnya hidup menjadi seorang anak yatim piatu. Dahulu menjadi jurnalis itu tidaklah sejahtera. Penghasilan tidak menentu. Untuk menghidupi diri sendiri saja susah, apalagi harus menghidupi dan memberi makan anak yatim,” kata Rohani saat dijumpai Radar Sampit di Panti Asuhan Annida Qolbu yang kini sudah pindah di Jalan Jaya Wijaya IV, Senin (27/6).

Perasaaan pesimistis itu ditepis Rohani. Keadaan hidup yang membuatnya tak bisa menolak mengasuh anak yatim. Hati nuraninya tak tega membiarkan anak yatim terlantar dan mengalami kehidupan kelam. Bahkan, tak sedikit kasus anak yatim dan anak disabilitas yang menjadi korban penyiksaan, kekerasan dalam rumah tangga, bahkan pelecehan seksual.

”Saya saat itu merasa tidak sanggup mengasuh anak yatim, tetapi hati saya juga tidak bisa menolak. Saya tidak tega membiarkan mereka hidup di luar sana. Yang terus menjadi korban penyiksaan oleh manusia yang bertindak kasar dan tak memiliki kepekaan hati,” katanya.

Baca Juga :  Sepuluh Agen Brilink Dapat Kejutan dari BRI  Sampit

Anak-anak yatim pun merasa percaya, bahwa Rohani merupakan manusia pilihan yang diamanahkan Tuhan untuk menjaga, merawat, mengasihani, menyayangi, dan menghidupi anak-anak yatim piatu yang bernasib kurang beruntung.

”Anak-anak yatim tetap mau hidup dengan saya walaupun dalam kondisi susah. Bayangkan saja, ketika dulu saya bersama anak-anak yatim mau tidak mau terpaksa memakan beras beroma busuk, seperti aroma bama (pakan ayam), terkadang hanya berlauk taburan garam atau minyak jelantah. Mungkin tidak ada yang percaya itu,” kenang perempuan kelahiran Banjarmasin, 12 Desember 1972 ini.

Pos terkait